Gunung Gede

Buon Natale e anno nuovo 2013

Vrolijke Kerstmis en nieuwe jaar 2013

Judul Slide

Frohe Weihnachten und neues Jahr 2013

Memuat...

Kamis, 15 November 2012

Home » » Skripsi Ekonomi Syariah: PELAKSANAAN PEMBIAYAAN iB KEPEMILIKAN MOBIL DI BANK CIMB NIAGA SYARI’AH KANTOR CABANG SYARI’AH BANDUNG

Skripsi Ekonomi Syariah: PELAKSANAAN PEMBIAYAAN iB KEPEMILIKAN MOBIL DI BANK CIMB NIAGA SYARI’AH KANTOR CABANG SYARI’AH BANDUNG



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Balakang Masalah
Perkembangan perbankan syariah di Indonesia merupakan suatu perwujudan dari kebutuhan masyarakat yang menghendaki suatu sistem perbankan yang mampu menyediakan jasa keuangan yang sehat, juga memenuhi prinsip-prinsip syariah. Perkembangan sistem keuangan berdasarkan prinsip syariah sebenarnya telah dimulai sebelum pemerintah secara formal meletakkan dasar-dasar hukum operasionalnya.
Saat ini pengembangan perbankan di Indonesia memakai sistem perbankan ganda (dual banking system) yang mendapatkan pijakan yuridis via Undang-Undang Nomor 10  tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan.  Hal ini memberikan kesempatan bagi bank-bank umum konvensional untuk memberikan layanan syariah melalui Islamic Window dengan terlebih dahulu membentuk unit usaha syariah (Abdul Ghofur Anshori, 2008: 16).
Unit Usaha Syariah, yang selanjutnya disebut UUS adalah unit kerja dari kantor pusat bank umum konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang syariah dan atau unit syariah atau unit kerja di kantor cabang asing yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syariah dan atau unit syariah (Tim Citra Umbara, 2009: 251-252).
Bank CIMB Niaga Syariah merupakan unit usaha syariah dari bank konvensional yaitu PT Bank CIMB Niaga Tbk yang lahir dari proses merger antara PT. Bank Niaga Tbk. dan PT. Bank Lippo Tbk (Wawancara dengan Manager Sales Head,  Firdaus Ghalba: 14 Desember 2010).
Bunga uang dalam fiqih dikategorikan sebagai ribā yang dilarang oleh syariah. Alasan mendasar inilah yang melatar belakangi lahirnya lembaga keuangan bebas bunga salah satunya Bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung. Lembaga ini melaksanakan kegiatan usaha yang berlandaskan dengan prinsip-prinsip syariah, yang memiliki peran sebagai penghimpunan dana (funding) dan penyaluran dana (lending). Salah satu  Produk (lending) yang berbentuk pembiayaan yang ada pada Bank CIMB Niaga syariah  terbagi kepada pembiayaan konsumer (konsumtif) dan pembiayaan untuk usaha (produktif) yaitu sebagai berikut;
1.         Untuk pembiayaan konsumer (konsumtif) yaitu  :
a.      Pembiayaan iB kepemilikkan rumah
b.      Pembiayaan iB kepemilikkan mobil
c.      Pembiayaan iB bisnis (Multi guna)
2.         Untuk pembiayaan usaha  yaitu:
a.    Pembiayaan modal kerja
b.   Pembiayaan investasi 
Pada pelaksanaannya Bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung ini akad-akad yang digunakan tidak jauh berbeda dengan bank-bank umum syariah lainnya. Akad yang dipakai sebagai berikut; akad murābahah, ijārah, mudhārobah, qārdh, rahn, istisna, wakālah dll (Wawancara  dengan Manager Sales Head,  Firdaus Ghalba: 17 Desember 2010).
Pembiayaan murābahah merupakan produk pembiayaan yang dimiliki oleh bank syariah. Dengan pembiayaan murābahah maka nasabah akan terhindar dari praktik (ribā). Menurut Zainuddin Ali (2008: 88) ribā dapat di artikan sebagai pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. sehingga hukumnya diharamkan karena bertentangan dengan prinsip-prinsip agama Islam. Sesuai dengan prinsip syariah yang berpegang teguh pada keadilan, murābahah tidak hanya mementingkan kepentingan salah satu aspek saja tapi juga memperhitungkan semua aspek. Murābahah ini merupakan model pembiayaan utama yang digunakan oleh bank-bank syariah. Di Indonesia portofolio  pembiayaan murābahah mencapai 70-80% (Muhammad, 2000: 14).
Dalam produk pembiayaan yang paling diminati oleh konsumen seiring dengan berjalannya peningkatan kebutuhan yaitu salah satunya pembiayaan konsumtif. Yang dimaksud dengan pembiayaan konsumtif adalah jenis pembiayaan yang diberikan untuk tujuan di luar usaha dan umumnya bersifat perorangan (Adiwarman A. Karim, 2004: 244). Jenis pembiayaan konsumtif di Bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung yaitu berupa pembiayaan iB rumah, pembiayaan iB mobil, pembiayaan iB bisnis (multi guna) dan modal kerja/investasi dalam pembiayaan ini akad yang dipakai pada Bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung ini yaitu “akad murābahah”.
Dalam pelaksanaan pembiayaan murābahah di Bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung ini pada prosesnya sama seperti bank-bank syariah lainnya. Setelah persyaratan dari kebijakan bank terpenuhi melalui beberapa proses tahapan seperti dari surat permohonan pembiayaan sampei tahap pencairan, maka setelah semuanya selesei dilakukanlah perjanjian akad murābahah (Wawancara  dengan staf  Marketing Compliance Jabar Area, Budy Kusmayadi: 14 Januari, 2011).
Pelaksanaan pembiayaan murābahah ini agar sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan tidak terjadi penyimpangan, juga terhidar dari unsur ribā. Harus memenuhi rukun dan syarat murābahah.
Pada kenyataannya praktik yang dilaksanakan di Bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung ini, dengan menggunakan akad murābahah dalam perjanjian akad tidak dimuat secara rinci tentang harga pada saat studi pendahuluan untuk produk pembiayaan iB kepemilikan mobil. Telah diterangkan menurut rukun dan syaratnya pada murābahah, “antara îjab dan qābûl (serah terima) harus selaras baik dalam spesifikasi barang maupun harga yang disepakati” (Suharto, 2003: 77). Dan  harga jual dicantumkan dalam akad jual beli dan jika telah disepakati tidak dapat berubah selama berlakunya akad. (Rifqi Muhammad, 2008: 158).
Penulis mengambil sampel produk untuk pembiayaan iB kepemilikan mobil karena akad perjanjian murābahah yang dilaksanakan di Bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung ini untuk perjanjiannya tidak dijelaskan secara tulisan  walau mungkin secara lisan telah dijelaskan. Harga itu mesti tertulis, dimuat dalam perjanjian akad murābahah karena itu adalah salah satu ketentuan-ketentuan pokok akad. karena akad itu sifatnya mengikat dan harus jelas karena akad adalah pertalian antara îjab dan qābûl yang dibenarkan oleh syara yang menimbulkan akibat hukum terhadap obyeknya (Ghufron A. Mas’adi, 2002: 76).
Berikut ini adalah tabel produk pembiayaan murābahah untuk (konsumtif) dan usaha (produktif) yang dilaksanakan oleh Bank CIMB Niaga Syariah KCS  Bandung adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1 : Produk Pembiayaan Murābahah untuk (Konsumtif) dan Usaha (Produktif) di Bank CIMB Niaga Syariah KCS  Bandung

Jenis Produk Pembiayaan
Jumlah Nasabah
Pembiayaan iB kepemilikan rumah
104
Pembiayaan iB kepemilikan mobil
14
Pembiayaan modal kerja/ investasi
51
Sumber: Laporan Pembiayaan Murābahah Bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung Tahun 2010

Dilihat dari laporan realisasi per tahun 2010 ini jumlah nasabah untuk jenis pembiayaan iB kepemilikan mobil jumlah nasabahnya ada sebanyak 14 nasabah, bisa dikatakan jumlah nasabahnya sedikit Sedangkan untuk pembiayaan lainnya seperti pembiayaan iB kepemilikan rumah dan pembiayaan modal kerja investasi jumlah nasabahnya relatif lebih banyak (Wawancara dengan staf Marketing Compliance Jabar Area, Budi Kusmayadi: 14 Januari, 2011).
Setelah melihat tabel pembiayaan di atas, maka kiranya jenis kredit pembiayaan yang nasabahnya relatif sedikit adalah untuk jenis pembiayaan iB kepemilikan mobil. Ini bisa terjadi karena memang di sini bisa dilihat dari denda yang cukup besar pada saat studi pendahuluan, sehingga peminat nasabah untuk jenis pembiayaan iB kepemilikan mobil ini relatif sedikit.
Dapat dilihat pada tabel (SP4) secara ringkas tentang pembiayaan iB Kepemilikan Mobil tentang adanya denda sebagai berikut:
Tabel 1.2 : Surat Persetujuan Prinsip Pemberian Pembiayaan (“SP4”)
Bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung
Keterangan Pemberian Pembiayaan (SP4)
Jumlah
Jumlah pembiayaan
Rp. 225. 000.000
Jangka waktu
48 bulan
Angsuran bln 1-48
Rp. 5. 952.769
Denda.
Apabila selama jangka waktu pembiayaan selaku nasabah melakukan keterlambatan pembayaran angsuran, maka akan dikenakan denda.
0.15% per hari dihitung dari jumlah angsuran tertunggak yaitu sebesar Rp. 8.930
Sumber: Tabel Surat Persetujuan Prinsip Pemberian Pembiayaan (“SP4”) dalam Pembiayaan iB Kepemilikan Mobil, Bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung Desember 2010.

Dapat dilihat pada tabel (“SP 4”) dalam pembiayaan iB kepemilikan mobil ini terdapat denda yaitu sebesar 0.15% per        hari dihitung dari jumlah angsuran tertunggak yaitu sebesar Rp. 8.930. Karena denda tersebut  diberlakukan per hari maka akan semakin besar setiap harinya untuk nasabah yang melakukan keterlambatan pembayaran angsuran.
Pada dasarnya denda itu memang boleh sesuai dengan Fatwa  DSN (No:17/DSN-MUI/IX/2000 tentang sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nuda pembayaran pada ketentuan umum: “Sanksi didasarkan pada prinsip ta’zir yaitu bertujuan agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya (Himpunan Fatwa DSN, Tim Penyunting Ichwan Sam dkk: 2006: 99). Begitupun dengan Bank CIMB Niaga Syariah tetapi bukan denda yang menjadi permasalahan dari pada prakteknya melainkan adalah hitungan per-harinya yang cukup besar.
 Denda per hari pada pembiayaan iB kepemilikan mobil ini cukup besar dan dikhawatirkan adanya unsur-unsur ribā”, dimana ini merupakan bagian dari pelaksanaan pembiayaan iB kepemilikan Mobil di bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung. Ketentuan pelarangan ribā ini seperti yang terdapat pada kaidah fiqih muamalah yang menyatakan bahwa:
كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةٍ فَهُوَ رِبَا

“Setiap pinjaman dengan menarik manfaat adalah sama denga ribā” (A. Djazuli, 2006: 138).
Pada Bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung, denda disini yaitu apabila nasabah pada tanggal yang ditentukan tidak dapat membayar lunas hutang murābahah yang tertunggak, maka nasabah akan dikenakan denda sebesar 0,15% per-hari untuk setiap hari keterlambatan dari hutang murābahah yang tidak atau lalai dibayar sejak tanggal jumlah yang bersangkutan terlambat dibayar sampai dengan kewajiban tersebut diselesaikan sebagaimana mestinya.
Denda diperhitungkan sejak tanggal tertunggaknya kewajiban pembayaran hutang murābahah sampai dengan kewajiban tersebut dilunasi sebagaimana mestinya. Ketentuan ini tidak mengurangi kewajiban nasabah untuk tetap membayar hutang murābahah kepada bank (Dokumen perjanjian pembiayaan murābahah Bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung: hal. 4).
Karena jumlah nasabah yang relatif sedikit itu pada  jenis pembiayaan iB kepemilikan mobil maka penulis tertarik untuk meneliti ketidak sesuaian dalam pelaksanaan akad murābahah dan perlakuan denda yang dihitung per hari.
Dalam kasus yang terjadi di Bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung adalah pembiayaan kepemilikan iB mobil yang di dalam pelaksanaan akad perjanjian murābahah tidak dijelaskan secara tulisan  walau mungkin secara lisan telah dijelaskan. Harga itu mesti tertulis, dimuat dalam perjanjian akad murābahah karena itu adalah salah satu ketentuan-ketentuan pokok akad. Dan untuk pembiayaan iB kepemilikan mobil ini terdapat denda sebesar 0.15% per hari dihitung dari jumlah angsuran tertunggak dengan ditetapkannya denda per hari tersebut, akan semakin besar setiap harinya dari sisa hutang pembiayaan yang belum dibayarkan ditambah dengan nominal dendanya untuk nasabah yang melakukan keterlambatan pembayaran angsuran, sehingga dikhawatirkan tidak bersifat ta’zir”. Di samping itu hal ini juga tidak menutup kemungkinan akan sangat memberatkan dan merugikan pihak nasabah sehingga rusaknya prinsif syariah tersebut. Dan pada penentuan denda, ditentukan secara sepihak oleh bank CIMB Niaga Syariah sehingga memungkinkan adanya unsur keterpaksaan bagi nasabah yang hendak mengajukan pembiayaan iB kepemilikan mobil dengan akad murābahah. Ini semua merupakan bagian dari pelaksanaan pembiayaan iB kepemilikan Mobil di bank CIMB Niaga Syariah KCS Bandung.
Dari uraian permasalahan di atas penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian lanjutan di Bank tersebut dengan judul : “Pelaksanaan Pembiayaan iB Kepemilikan Mobil di Bank CIMB Niaga Syariah Kantor Cabang Syariah Bandung
B.     Rumusan Masalah
Dengan latar belakang masalah di atas, kiranya dapat diajukan perumusan masalah dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1.         Bagaimana pelaksanaan akad murābahah pada pembiayaan iB kepemilikkan mobil di Bank CIMB Niaga Syariah Bandung?
2.         Bagaimana pelaksanaan pemberlakuan denda pada pembiayaan iB kepemilikan mobil di Bank CIMB Niaga Syariah Bandung?
3.         Bagaimana analisis kesesuaian antara pelaksanaan pembiayaan iB kepemilikan Mobil di Bank CIMB Niaga Syariah Bandung dengan fatwa DSN (No: 04/DSN-MUI/IV/2000) tentang murābahah dan fatwa DSN (No: 17/DSN-MUI/IX/2000) tentang sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran?
C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menjelaskan status hukum jual beli yang dalam perspektif hukum Islam secara rinci sebagai berikut:
1.         Untuk mengetahui pelaksanaan akad murābahah pada pembiayaan iB kepemilikkan mobil di Bank CIMB Niaga Syariah Bandung.
2.         Untuk mengetahui pelaksanaan pemberlakuan denda pada pembiayaan iB kepemilikan mobil di Bank CIMB Niaga Syariah Bandung.
3.         Untuk mengetahui kesesuaian antara pelaksanaan pembiayaan iB kepemilikan mobil di Bank CIMB Niaga Syariah Bandung dengan fatwa DSN (No: 04/DSN-MUI/IV/2000) tentang murābahah dan fatwa DSN (No: 17/DSN-MUI/IX/2000) tentang sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran”.







D.    Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan kemaslahatan dan manfaat bagi :
1.       Peneliti
a.        Untuk mengetahui pelaksanaan akad murābahah pada pembiayaan iB kepemilikkan mobil dan pelaksanaan pemberlakuan denda pada pembiayaan iB kepemilikan mobil di Bank CIMB Niaga Syariah Bandung.
b.       Untuk mengetahui kesesuaian antara pelaksanaan pembiayaan iB kepemilikan mobil di Bank CIMB Niaga Syariah Bandung dengan fatwa DSN (No: 04/DSN-MUI/IV/2000) tentang murābahah dan fatwa DSN (No: 17/DSN-MUI/IX/2000) tentang sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran”.
c.        Sebagai tambahan ilmu pengetahuan dan untuk menganalisa kemampuan diri peneliti dalam mekanisme pelaksanaan akad murābahah pada pembiayaan iB kepemilikkan mobil di Bank CIMB Niaga Syariah Bandung
2.       Bank atau Lembaga Keuangan Syariah
a.        Memberikan nilai tambah dan mengurangi image masyarakat tentang pelayanan bank syariah yang lamban.
b.       Meningkatkan jumlah mitra kerja.
c.        Mengetahui kelebihan dan kelemahan sistem yang dimiliki bank syariah.
3.       Bagi Masyarakat Umum
a.       Memberikan pengetahuan bahwa Islam memiliki konsep ekonomi syariah yang aplikatif
Memberikan alternatif pilihan bagi masyarakat untuk memilih produk pembiayaan kepemilikan mobil yang sesaui dengan prinsip-prinsip syariah Islam.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung pornografi.
Anda bisa berkomentar dengan menggunakan pilihan: Nama/URL. Kolom URL bisa dikosongkan.