Gunung Gede

Buon Natale e anno nuovo 2013

Vrolijke Kerstmis en nieuwe jaar 2013

Judul Slide

Frohe Weihnachten und neues Jahr 2013

Memuat...

Kamis, 15 November 2012

Home » Novel Ayat-ayat Cinta

Novel Ayat-ayat Cinta


Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah
petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah
dan pasir menguapkan bau neraka. Hembusan angin sahara disertai debu yang
bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik.
Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemenapartemen
berbentuk kubus dengan pintu, jendela dan tirai tertutup rapat.
Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan
jauh lebih nyaman daripada berjalan ke luar rumah, meski sekadar untuk shalat
berjamaah di masjid. Panggilan azan zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran
di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang
benar-benar tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad beribadah sesempurna
mungkin dalam segala musim dan cuaca, seperti karang yang tegak berdiri dalam
deburan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari. Ia tetap teguh berdiri
seperti yang dititahkan Tuhan sambil bertasbih tak kenal kesah. Atau, seperti
matahari yang telah jutaan tahun membakar tubuhnya untuk memberikan
penerangan ke bumi dan seantero mayapada. Ia tiada pernah mengeluh, tiada
pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah Tuhan.
Awal-awal Agustus memang puncak musim panas.
Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, aku sendiri sebenarnya
sangat malas keluar. Ramalan cuaca mengumumkan: empat puluh satu derajat
celcius! Apa tidak gila!? Mahasiswa Asia Tenggara yang tidak tahan panas,
biasanya sudah mimisan, hidungnya mengeluarkan darah. Teman satu flat yang
langganan mimisan di puncak musim panas adalah Saiful. Tiga hari ini, memasuki
pukul sebelas siang sampai pukul tujuh petang, darah selalu merembes dari
hidungnya. Padahal ia tidak keluar flat sama sekali. Ia hanya diam di dalam
kamarnya sambil terus menyalakan kipas angin. Sesekali ia kungkum,
mendinginkan badan di kamar mandi.
Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen1 aku bersiap
untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar


0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung pornografi.
Anda bisa berkomentar dengan menggunakan pilihan: Nama/URL. Kolom URL bisa dikosongkan.