Gunung Gede

Buon Natale e anno nuovo 2013

Vrolijke Kerstmis en nieuwe jaar 2013

Judul Slide

Frohe Weihnachten und neues Jahr 2013

Memuat...

Kamis, 28 Juni 2012

Home » » Real Life System

Real Life System

Keteraturan, Kompleksitas, dan Kesemrawutan RLS (Real Life System): Implikasinya untuk Belajar
Oleh Agus Mulyanto


Real Life System adalah sistem kehidupan nyata yang menurut Achmad Sanusi, katagorisasi jenis utamanya bisa mencakup berbagai satuan RLS seperti manusia secara pribadi, satuan kemasyarakatan, satuan kealaman biologis, kimiawi, dan fisikal (Sanusi,98:97). Dalam tubuh manusia itu sendiri, dari ujung rambut sampai ke telapak kaki terdapat satuan-satuan RLS. Tiap RLS punya unsur-unsur pembentuk yang memiliki fungsi dan tujuan, tiap satuan dalam RLS memiliki daya dan potensi untuk berubah dan tumbuh, punya arah dan proses pertumbuhan, dan dalam perkembangannya saling mempengaruhi dengan RLS lain.

Kalau kita perhatikan kehidupan ini, dari apa yang kita lihat, kita dengar, atau kita rasakan, kita bisa mengetahui begitu banyak satuan-satuan RLS, yang bergerak dan berubah secara luas dan cepat. Perubahan itu tidak hanya mengarah ke dalam suatu keteraturan dan kerjasama, tetapi ada juga ke arah perlombaan dalam keunggulan, kompleksitas, dan kesemrawutan. 
Lima puluh tahun terakhir, perubahan ini semakin terasa begitu cepat dibanding beberapa ribu tahun yang lalu. Ini terjadi barangkali berkaitan dengan potensi ketahuan kita semakin berkembang sejalan dengan perkembangan dunia informasi yang demikian cepat. Walaupun demikian, ketahuan kita masih sedikit, hanya sebagian kecil saja dari hidup dan kehidupan ini. Juga tentang unsur-unsur esensialnya, kategori satuannya, tugas dan fungsinya, daya dan potensinya, proses dan arahnya. Termasuk juga daya suai terhadap lingkungannya, tentang nois, penyakit, entropi dan kematiannya. Apalagi tengtang hidup di babak selanjutnya (hal. 96).
Achmad Sanusi menggambarkan bahwa begitu banyak RLS dengan kompleksitasnya dan ketidakpastiannya. Ia menggambarkan RLS mulai dari kehidupan manusia sehari-hari, krisis ekonomi yang telah dan masih berlangsung sekarang ini, kontroversi kemakmuran dan kesengsaraan di AS,spesies zaman purba dan ekosistemnya, sampai ke RLS dalam proses diri memahami kehidupan.

Aliran-aliran Pemikiran tentang RLS

Dalam memandang dan memahami keberadaan RLS, banyak orang yang berpijak pada aliran pemikiran evolusionisme. Dalam pemahamannya, RLS itu bersifat self-existent, ada dengan sendirinya berkat berbagai potensi yang inheren dan amat beragam, tetapi juga berpasang-pasangan dalam meneruskan kehidupannya. Mereka menolak campur tangan tuhan dalam peri kehidupan RLS. Kata kunci yang lazim dalam aliran ini adalah self existence, self-growth atau self-organization, total entty, part, evolution, co-evolution, survival of the fittest, inter-releationship, inter-corelation, the whole is greater than the sum of its parts, atau entropy, decay, and end. (hal. 99). Termasuk dalam kelompok aliran ini adalah kaum rasionalis atau positivis. Ada pula yang berpikiran agnostik yang menyatakan tuhan boleh jadi ada, tetapi mengaitkannya dengan RLS, tidaklah relevan.

Bagi kaum yang beriman dan bertauhid kepada Allah SWT, RLS adalah makhluk, buah ciptaan Yang Maha Pencipta. Tuhanlah yang menciptakan potensi-potensi RLS, baik yang makro maupun yang mikro, dalam satuan yang teramat raksasa sampai ke unsur-unsur kecil yang sangat detail. Dalam pandangan kaum beriman, perilaku alam empirik adalah sunatullah, dan manusia dibekali potensi unggulan seperti akal-budi, hati nurani, sodr, fuad, qalbu, lubb, dan roh. RLS juga diyakini tidak hanya sebagai dunia empirik yang berhukum sebab-akibat dan fungsional, tetapi jika dipahami sebagai dunia normatif yang mengandung hubungan kewajiban: bahwa makhluk wajib mentaati perintah-perintah Yang Maha Khalik.

Pertumbuhan dan Perkembangan RLS

Berdasarkan penelitian ilmiah, proses kehidupan RLS yang bertahap dan bertingkat itu dapat diketahui. Setiap RLS tumbuh mendewasa di dalam lingkungan internalnya. Unsur-unsur di dalamnya bersatu padu dengan pasangan-pasangan internalnya tadi. Segala RLS berada dalam satu hubungan jaringan (network) fungsional yang amat kompleks. Sebagai suatu keseluruhan, kehidupan segala RLS bergerak dan berubah secara stasioner, suatu hubungan perimbangan yang dinamik. Tatkala ada yang rusak dan mati, ada pasangan lain yang meremaja dan tumbuh terus dengan kokoh, untuk kemudian siklus itu berulang dan berulang lagi.
Fungsi internal dan eksternal setiap satuan RLS itu unik. Ada daya untuk hidup, berubah, tumbuh, mati atau tumbuh terus dengan penyesuaian terhadap lingkungannya. Ada intensi, bakat, dan proses. Ada batasan waktu atau babak dan tahapan tertentu, dimana bagian-bagian dari satuan RLS itu mati atau tumbuh terus. Tatkala makin dewasa, perilakunya mengalami perubahan yang makin luas dan cepat. Juga berinteraksi dengan RLS lain sehingga semakin rumit dan kompleks.

Modelling: Pendekatan Memahami RLS

Meskipun peluang kita mengetahui dan memahami sesuatu RLS bersifat terbatas dan relatif, tetapi perlu diupayakan agar pengetahuan tentang dimensi-dimenisi RLS itu dan pengolahan informasinya bisa signifikan, berarti, dan bermakna. 

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan ialah melalui modeling. Modeling yang di dalamnya ada model contruction, model-descriptions, model-solutions, model-design, model-exsperimentation, model-operations, model-testing, dan model-development. Untuk ini diperlukan penguasaan teori-teori dan wawasan dalam suatu bidang ilmu tertentu, umpamanya ilmu sosial, psikologi, bahasa, ekonomi, pendidikan, atau ilmu fisika. Namun karena kompleksnya tiap satuan RLS itu secara internal dan eksternal, maka kerja sama antar-disiplin itu akhirnya berul-betul diperlukan.

Dari keragaman pemikiran tentang modeling RLS ini, ada beberapa butir buah pikiran tentang modeling itu yang bisa dirumuskan, bahwa :
1. modeling pada hakikatnya merupakan abstraksi suatu RLS, bukan RLS yang sebenarnya;
2. ia harus representasi dari RLS yang sebenarnya dan dapat diterjemahkan, diaplikasikan dengan mudah, tidak kaku, dan fleksibel;
3. menampilkan karakteristik utama RLS-nya;
4. mampu menunjukkan performans RLS-nya secara nyata, handal, dan terpercaya;
5. solusi dan evaluasinya memerlukan waktu yang paling singkat.
6. setiap modelling yang terbaik sekalipun, harus dipahami mempunyai keterbatasan, karena setiap RLS memiliki sifat-sifat yang unik, dan peminatnya pun bervariasi. Peminat bertujuan dan berpemahaman yang unik pula.

Aplikasi Model Prilaku RLS : Masyarakat Bangsa Indonesia

Modeling bisa diterapkan untuk menggambarkan RLS masyarakat Indonesia pada berbagai bidang seperti di bidang ekonomi dan bisnis, di bidang politik dan hukum konstitusi, bidang pendidikan, bidang keagamaan dan sosial budaya, bidang pendidikan, bidang informasi dan komunikasi, bidang kesehatan masyarakat, bidang olahraga, bidang seni, dan budaya (Hal. 104-130). Berikut ini cuplikan contoh modeling RLS masyarakat/bangsa Indonesia di bidang ekonomi dan bisnis, serta politik dan hukum konstitusi.
Dalam bidang ekonomi dan bisnis, model RLS masyarakat bangsa Indonesia bisa digambarkan sebagai berikut:

Pemerintah/negara bisa diibaratkan sebagai rumah tangga yang memerlukan investasi untuk menjalankan rumah tangganya. Salah satu sumber investasi ada yang bersumber dari utang luar negri dengan berbagai jenis bentuk dan persyaratan. Utang itu lama-lama bertambah hingga tahun 1997 mencapai US $ 120 milyar. Pembangunan di pelbagai sektor bergulir dengan kondisi yang tidak seimbang. Di satu sisi, pendapatan kaum elit, GDP, dan national income meningkat, tatapi pada sisi lain dasar institusional, SDM, dan produktifitas tetap rendah. Ketika pendapatan luar negri tidak bertambah, bunga pinjaman semakin gemuk. Kebijakan moneter tidak tanggap, perputaran modal ternyata hanya terjadi dalam segelintir orang/kelompok yang punya akses ke sumbu kekuasaan. Maka ketika para spekulan mulai bermain, sejumlah bank kedapatan bermasalah, banyak modal dalam negri yang lari ke luar negri, adanya gejolak moneter, dan berbagai masalah lain mengakibatkan bidang ekonomi dan bisnis bangsa Indonesia ambruk. Dalam bidang ini semua bagian masyarakat, semua pihak dan semua orang dengan berbagai unsurnya berada dalam proses, bergerak, dan berubah. 

Di bidang politik dan hukum konstitusi, Indonesia mengalami perubahan mendasar dari masa koloni ke masa kemerdekaan. Sistem kehidupan bergulir terus sampai akhir tahun 1965 Indonesia mengalami perubahan politik yang cukup menonjol dengan munculnya orde baru dan dilarangnya PKI. Selain PKI, dalam perkembangan selanjutnya ekstrim kanan dan kiri pun diharamkan. P4 kemudian muncul untuk menancapkan Pancasila sebagai satu-satunya falsafah berorganisasi. Pendekatan dalam mengatur negara adalah national security approach. Awalnya memang tepat, tetapi pendekatan ini ternyata berkembang begitu cepat, sehingga apapun yang terjadi di negara ini selalu dipandang dari sisi ini. Ia dijadikan dasar legitimasi pengaturan politik negara baik dalam bidang pemerintahan, hukum, perekonomian, sains, teknologi, pendidikan, dan kehidyupan bermasyarakat lainnya. Orang yang paling bertanggung jawab adalah presiden/panglima tertinggi/ kepala pemerintahan/ kepala negara/mandataris MPR. Karena paling bertanggung jawab maka kata awal dan kata akhir segala urusan terletak padanya, segala urusan mesti top-down.

Gagasan “Pancasila sebagai Ideologi terbuka” dan “setuju untuk tidak setuju” hanyalah retorika. Jika suatu prakarsa dinilai ‘belum waktunya’ atau ‘membahayakan’ si pemrakarsa harus tunduk, jika tidak bisa ‘digebuk’. Akhirnya bagaimana ? Kita semua telah menjalani endingnya. 
Jadi pada intinya, dalam bidang politik ini semua pihak berada dalam proses, bergerak dan berubah. Unsur internal tiap RLS turut menentukan apakah kondisi dan prosesnya masing-masing sehat dan kuat menuju tahap berikutnya atau tidak. Disamping unsur-unsur internal, sifat hubungan tiap satuan life system dengan lingkungan luarnya turut menentukan kehidupan di tahap berikutnya.

Aplikasi Model RLS : Manusia

Hal serupa bisa juga diterapkan pada manusia sebagai satuan RLS, modeling RLS bisa digambarkan dari satuan kulit, otak, darah, paru-paru, dan bagian tubuh lain. Berikut cuplikan penggambaran RLS Otak.
Perhatikan otak. Beratnya sekitar 1,5 Kg. Organ ini bersama dengan sumsum tulang belakang berfungsi sebagai basis utama oprasi sistem syaraf. Dari otak dan sumsum syaraf bercabang ke setiap bagian tubuh, jadi jaringan syaraf yang begitu rapih. Dengan syaraf lebih dari 10 milyar neuron indra, neuron motorik, dan neuron penyambung menjalankan fungsinya yang unik: menyampaikan isyarat-isyarat dari dan ke otak atau sumsum tulang belakang. Neorun indra menjaga agar otak tetap mendapat informasi melalui berbagai macam reseptor. Reseptor terletak pada kulit, lidah, hidung, retina mata, telinga, dll. Sewaktu-waktu reseptor itu bekerja sendiri, kadangkala gabungan antar reseptor sekaligus, suatu hal yang sungguh rumit namun berada dalam suatu keteraturan.

Dalam otak ada impuls motorik yang bersifat mekanis, tetapi ada juga yang bersifat elektro-kimiawi. Konon menurut para ahli kecepatannya berkisar mulai dari setengah sampai 1000 meter per detik. Walaupun secara garis besar unsur-unsur dan proses kerja otak itu umum, tetapi selalu ada perbedaan dan variasi antar-individu. Bahkan ada para ahli yang berspekulasi bahwa ada perbedaan kerja otak tatkala seseorang mengalami tingkat-tingkat kesadaran dan berpikir yang berbeda. Di samping itu ada konsep baru yang menyatakan bahwa otak mempunya potensi dan daya cognitive intelligence, emotional intelligence, judgment intelligence, creative intelligence, motoric intelligence, numeric intelligence, rethoric intelligence, dan spiritual intelligence. Dengan demikian, otak mempunyai multiple intelligence. Ada kasus yang menunjukkan bahwa kerja otak begitu cepat, tetapi ada yang berpikir lamban. Ada yang hanya siap berpikir tentang hal-hal yang sederhana dan jangka pendek, tatapi ada yang mampu berpikir makro dengan jangka waktu yang panjang. Atau ada yang lebih mampu berpikir logis-rasional, kritis, spesifik, dan numerikal. Tetapi, ada pula yang lebih siap berpikir refelktif, kreatif kualitatif, dan integratif. Karena proses berpikr itu tidak kelihatan, sulit diketahui secara pasti bagaimana segala unsur otak dan yang terlibat dengan otak itu eksis, tumbuh, bergerak, berprilaku, berinteraksi, atau berubah tatkala orang sedang berpikir.

Jika kita tidak pandai-pandai mengembangkan diri dan melakukan adaptasi, segala RLS di sekitar kita tetap maju, bergerak, dan berubah. Bukan saja perubahan itu makin luas dan cepat, namun sekaligus membawa makin banyak unsur ketidakpastian, chaos, dan resiko. Padahal, deskripsi yang tepat diperlukan untuk mendesain dan kebijakan dalam menempuh perkembangan baru. Di sinilah diperlukan modeling untuk mengabstraksikan RLS. Modeling merepresentasikan unsur-unsur RLS yang kategorikal atau esensial. Tentu saja modeling yang baik adalah modeling yang representasinya paling efektif (semallest error) dan efesien (shortest time). Termasuk cakupannya akan perubahan kualitiatif dan kuantitatif. Orang melakukan modeling dapat ditujukan untuk kepentingan : 1) potret-deskripsi- analisi, dan 2) desain-manajemen-kontrol. Karena perilaku RLS ini sangat kompleks, maka modeling sebaiknya dilakukan dengan premis-premis menurut kajian inter-disipliner dalam satu tim kerja.

Modeling akan menuntun kita belajar mempertegas dan mengembangkan visi, baik dalam keseluruhan kehidupajn kita dalam bermasyarakat, maupun secara khusus visi kita di FKIP UNINUS. Visi di sini mencakup tiga subtansi: 1) sistem nilai (keadilan, kejujuran, saling menghromati, persaudaraan dll. ), 2) misi (hendak menjadi apa dan hendak menjalankan peran apa), 3) tujuan (mutu yang ditawarkan kepada lingkungan).

Dengan modeling, kita sebagai pribadi dan warga masyarakat belajar mengembangkan life skills, dan mencari alternatif jalan keluar agar tidak terbawa arus chaos dan krisis. Semua itu hendaknya ditegakkan dan dikembangkan menjadi batu loncatan ke arah student learning for better undestending, better judgment, better decision. Lalu menjadi batu loncatan kepada learning for intellegent self growth and team work.


http://pbsindonesia.fkip-uninus.org/media.php?module=de.tailartikel&id=11

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung pornografi.
Anda bisa berkomentar dengan menggunakan pilihan: Nama/URL. Kolom URL bisa dikosongkan.