Gunung Gede

Buon Natale e anno nuovo 2013

Vrolijke Kerstmis en nieuwe jaar 2013

Judul Slide

Frohe Weihnachten und neues Jahr 2013

Memuat...

Jumat, 29 Juni 2012

Home » , » FILOLOGI (Sekilas Tentang Pengertian, Tujuan, Cara Kerja, Objek Studi, Hasil, dan Manfaatnya)

FILOLOGI (Sekilas Tentang Pengertian, Tujuan, Cara Kerja, Objek Studi, Hasil, dan Manfaatnya)

Kita ketahui bahwa sejarah perjalanan umat manusia telah dimulai sejak lama, secara pasti tidak diketahui berapa ribu atau berapa juta tahun yang lalu umur sejarah manusia di muka bumi ini dimulai. Bukti-bukti sejarah kehidupan manusia di masa lampau itu dapat kita temukan di masa kini . Banyak peninggalan nenek moyang yang bisa kita jumpai, baik dalam bentuk benda fisik seperti candi, prasasti, senjata, alat-alat rumah tangga, atau naskah, maupun dalam bentuk nonfisik seperti tradisi, budaya, pola pikir, dan sejenisnya. Sebagai manusia dan bangsa yang menghargai peninggalan nenek moyangnya, upaya mempelajari, melestarikan, dan menumbuhkembangkan warisan leluhur itu Kita lakukan. 

Naskah-naskah klasik sebagai salah satu jenis produk budaya pada masa lampau cukup penting keberadaannya. Penting karena dalam naskah-naskah tersebut terkandung banyak hasil pemikiran pada cendikiawan pendahulu kita yang kini kita warisi. Karya-karya tersebut harus kita pelajari agar hormat kita kepada nenek moyang kita bertambah karena perkenalan kita dengan karya-karya mereka yang berkualitas.

Beragamnya warisan sastra klasik bangsa kita oleh para pakar disebutnya dengan beberapa istilah. Akan tetapi, yang dimaksud tetap sama, mengacu kepda karya-karya tradisional dari daerah-daerah nusantara. Keragaman yang ditandai bahasa yang digunakan, beragama karena budaya yang mereka kenalkan lewat karya-karyanya, beragam karena pemikiran yang mereka lontarkan. Keseragaman pada satu hal, yakni hampir semua karya mereka tidak pernah dimilikinya sebagai karya sendiri. Jarang yang mencantumkan penulis dalam karya klasik. Penulis atau mungkin penyalin beranggapan bahwa karya itu milik bersama.

Keragaman karyaklasik itu dapat ditinjau dari berbagai segi yang umum, yakni (1) naskah-naskah yang berisi teks sejarah, (2) naskah-naskah keagamaan, (3) naskah-naskah sains, dan (4) naskah-naskah kesusastraan.
Naskah yang sangat berharga itu berserakan tempatnya. Banyak yang belum dikenal masyarakat. Kekhawatiran atas kepunahan nasakah ituharus diwaspadai, harus ada yang mencoba mlestarikannya, harus ada yang mengenalkannya dalam bahasa sekarang. Oleh karena itu, salahsatu studi keilmuan mengarahkan pandangannya ke sana, pada naskah-naskah, yaitu filologi. Filologi merupakan salah satu bentuk usaha manusia menggali ‘harta’ terpendam itu. Lebih khusus lagi, Filologi merupakan ilmu yang bidang kajiannya adalah meneliti naskah-naskah klasik peninggalan masa lalu.
Kajian atau studi yang dilakukan dalam filoogi merupakan kajian kritis karena di dalamnya ada proses memilah dan memilih dengan tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi. Segala sesuatu dilakukan untuk mendapat naskah asli atau setidaknya mendekati keaslian. Dalam filologi, naskah yang demikian disebut naskah yang autoritatif. 

Penelitian naskah dalam filologi tidak hanya meneliti bentuk fisik naskah tetapi juga sampai kandungan terdalam yang ada di dalamnya. Ada upaya untuk merekonstruksi atau ‘menghadirkan kembali’ ide-ide, pola pikir, atau rumusan-rumusan hikmah kehidupan yang telah dicapai para pendahulu kita. Dengan demikian filologi merupakan ilmu yang menghubungkan kita dangan landasan kokoh masa lalu agar maksimal meningkatkan kualitas kita (sebagai bangsa yang memiliki sejarah yang demikian panjang) di masa kini dan masa yang akan datang.

B.Tujuan Filologi

Secara umum, filologi bertujuan mengungkapkan hasil pemikiran, pengalaman, dan budaya yang hidup pada masa lalu. Dengan cara seperti itu muncul juga manfaatnya, yakni terkodifikasinya nilai-nilai budaya klasik, melestarikan budaya yang terkandung dalam naskah itu dan memperkenalkannya kepada masyarkat. 

Selain itu, kalau kita amati tujuan-tujuan penelitian yang dilakukan 8 mahasiswa pascasarjana UNPAD tersebut, bisa kita rumuskan tujuan-tujuan khusus yang menjadi ciri khas flologi sebagai berikut : 
1.mengungkapkan gambaran naskah dari segi fisik dan isinya;
2.mengemukakan persamaan dan perbedaan antarnaskah yang berbeda;
3.menjelaskan pertalian antarnaskah;
4.menguraikan fungsi isi, cerita dan fungsi teksnya;
5.Menyajikan suntingan teks yang mendekati teks asli, autoritatif, bersih dari kesalahan untuk keperluan penelitian dalam berbagai bidang ilmu (sastra, bahasa, filsafat)
6.Menyajikan terjemahan hasil suntingan teks dan tulisan dan bahasa yang mudah dipahami masyarakat luas (misalnya dalam tulisan dan bahasa Indonesia) 

C. Cara Kerja Filologi

Cara kerja penelitian ini secara garis besar bisa dikelompokkan pada tiga kegiatan besar. 
Pertama, melakukan studi pustaka dan penelitian lapangan untuk mencari dan mengumpulkan naskah baik yang berupa naskah koleksi pribadi, keluarga, kelompok, atau lembaga. Hasil kegiatan pertama ini adalah data susunan / daftar naskah. 
Kedua, melakukan pengolahan dengan mendeskripsikan semua naskah dengan pola yang sama dari sisi nomor, ukuran ,keadaan, tulisan, bahasa, jumlah halaman, kolofon, dan garis besar isi cerita. Sebelumnya dilakukan dulu transliterasi. Hasil kegiatan di atas dimanfaatkan untuk penyusunan urutan episode naskah. Setelah itu dilakukan kolasi (colatio) yaitu memperbandingkan naskah. Dari hasil perbandingan itu dilakukan pertimbagan atas naskah (recentio) sehingga bisa ditentukan mana naskah yang salinan langsung dan mana yang berupa cuplikan atau naskah yang berbeda versi. Pada kegiatan ini biasanya didapat temuan/kasus varian korup, serta penyimpangan berupa : lakuna, ditografi, haplografi, transposisi, interpolasi, metatesis, dsb. Naskah yang berupa salinan langsung dijadikan objek penelitian. 
Ketiga, penentuan naskah yang akan disunting atau kritik teks. Inti kegiatan ini adalah menentukan teks yang autoritatif dengan menggunakan metode objektif. Tiap naskah diteliti secara sistematis hubungan kekeluargaannya atas dasar sifat-sifat khusus naskah itu (jumlah episode, urutan, umur, dan bacaan). Tiap naskah dibandingkan satu dengan yang lain pada bagian awal, tengah, dan akhir. Naskah yang dinilai autoritatif akan didisajikan suntingan teksnya

D. Objek Studi

Dilihat dari media bahasanya objek studi filologi adalah naskah klasik, dengan demikian menggunakan media bahasa tulis. Meskipun demikian ada pendapat bahwa studi filologi juga bisa mencakup peninggalan/ karya dalam bentuk lisan. Pendapat ini didasari pemikiran bahwa tradisi bersastra bahkan berbudaya sudah dimulai sejak manusia belum mengenal tulisan. Bentuk pengawetan/pelestarian pada masa sebelum dikenal bahasa tulis adalah dengan penghafalan secara lisan dengan penyebaran secara leluri. Walaupun demikian, dalam studi filologis, peninggalan teks yang dikemas dalam bahasa lisan secara teknis akan melalui proses transkripsi ke dalam bentuk naskah atau bahasa tulis.

Adanya pendapat di atas berdampak pada adanya persinggungan antara objek kajian filologi dengan objek kajian foklor. Sastra lisan, cerita rakyat, upacara-upacara adat memang merupakan objek kajian utama Foklor. Pembeda kedua ilmu ini adalah penekanan fokus kajiannya, filologi menekankan pada tradisi naskah, sedangkan foklor mengkaji tradisi lisan.
Dilihat dari bentuk fisik, objek kajian filologi adalah tulisan tangan (handschrift). Dalam perkembangannya, sentuhan teknologi menghasilkan ragam bentuk fisik beraneka seperti tulisan di daun lontar, kulit, kertas, tulisan cetakan pada kertas, dan microfilm. Adanya bentuk cetakan dan microfilm merupakan usaha manusia mengawetkan naskah lama dengan teknologi modern. Naskah Serat Magamulya misalnya sekarang ini terdiri dari dua jenis naskah yaitu tulisan tangan dan cetakan. Tetapi naskah Syair Nasuha sudah ada yang disimpan dalam bentuk microfilm.

Istilah atau definisi klasik pada objek studi filologi, pada masa sekarang ini tampaknya perlu ditinjau ulang. Makna klasik yang mengacu pada masa lalu memang sangat relatif. Kriteria jarak waktu lampau dalam makna klasik tidak bisa ditentukan dengan tegas. Fenomena sekarang menunjukkan adanya upaya beberapa ahli yang melakukan studi terhadap keaslian suatu karya modern (abad 19, awal abad 20) dengan membandingkan karya tersebut dengan karya lain. Usaha itu antara lain dilakukan Panuti Sujiman dalam meneliti keaslian puisi-puisi Chairil Anwar. Demikian pula A Teuw yang meneliti bagaimana terjadinya perubahan novel-nevel terbitan Balai Pustaka sebelum dan sesudah kemerdekaan. 

Keragaman karya klasik itu dapat ditinjau dari sisi bidang ilmu, yakni naskah-naskah yang berisi teks sejarah, naskah-naskah keagamaan, naskah-naskah bersisi ajaran moral, naskah-naskah sains, dan naskah-naskah kesusastraan. Sebagai contoh, Naskah Serat Margamulya bisa dikategorikan naskah sejarah dan serat piwulang (ajaran moral), Naskah Tinilo Paita, Geguritan I Ketut Bagus termasuk naskah sejarah agama, Naskah Isro Mikraj, dan Serat Suluh Resi Driya berisi ajaran agama/ Tasauf. 

Dilihat dari jenis pengungkapannya, naskah klasik itu ada yang berisi prosa, drama, maupun puisi. Dari delapan naskah klasik yang dijadikan objek studi proposal yang kami baca, semuanya berbentuk puisi. Naskah Syair Nasuha berbentuk syair; Naskah I Ketut Bagus berbentuk Geguritan; Serat Margamulya, Isro Mikraj, dan Babad Kanjeng ratu Beruk berbentuk tembang mocopat; dan naskah Serat Resi Driya berbentuk suluk. 

Kandungan tiap naskah pun beraneka macam. Salah satu contohnya adalah guguritan. Guguritan menurut kandungan isinya dibedakan menjadi 5 kelompok, yaitu (1) kelompok wariga, “nasakah yang memuat ajaran tentang dewasa’,yaitu hari-hari yang baik atau buruk untuk melakukan sesuatu, (2) kelompok cerita (kisahan) yang meliputi (a) cerita magis, (b) cerita percintaan, (c) cerita jenaka, (d) cerita tentang kritik sosial, (3) kelompok niti, yaitu ilmu tentang kepemimpinan, (4) kelompok ilmu bahasa, dan (5) kelompok uwug.

Ragam objek filologi bisa pula dilihat dari jenis bahasanya. Sesuai dengan asal daerahnya, tiap naskah menggunakan bahasa daerah di mana naskah itu berasal. Naskah Jauhara Molabi diungkapkan dalam bahasa Wolio (Sulawesi Tenggara) dengan aksara Arab-Melayu. Syair Nasuha menggunakan bahasa Minangkabau, Geguritan I Ketut Bagus menggunakan bahasa Bali Kuno. Serat Margamulya, Serat Resi Driya, Isro Mikraj, dan Babad Kanjeng ratu Beruk berbahasa Jawa.

Bentuk tulisan ada yang beraksara latin, arab melayu, maupun Jawa. Variasi bentuk tulisan beraneka pula, antara lain ada yang ngetumbar (bulat miring) dan ada yang mboto sarimbat (segi empat tegak). 

E.Hasil Filologi

Hasil kerja filologi adalah tersedianya naskah-naskah yang autoritatif sebagai bahan kajian untuk masyarakat dari berbagai bidang ilmu. Sekarang ini naskah-naskah hasil kerja para filolog telah banyak diterbitkan. Sebagai contoh, Hikayat Indranata merupakan karya sastra Indonesia lama berbahasa melayu setelah memalui proses pengkajian filologis oleh Mohamad Fanani, Nikmah Sunardjo, dan Dr. Nafron Hasjim telah diterbitkan oleh Pusat Bahasa dalam bentuk buku. 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Departemen Pendidikan Nasional) telah banyak menerbitkan naskah-naskah tersebut, khususnya naskah-naskah yang berasal dari daerah-daerah di nusantara. Selain pemerintah Indonesia, penerbitan hasil penelitian filologis naskah klasik nusantara juga telah lama dilakukan oleh pemerintahan Hindia Belanda. 

F.Manfaat Filologi

Secara umum manfaat filologi adalah menjaga kelestarian warisan luhur nenek moyang yang terkanding dalam naskah-naskah klasik. Dengan filologi naskah-naskah yang diambang kerusakan bisa diselamatkan. Lebih jauh dari itu hasil kerja filologi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dari berbagai bidang pekerjaan dan cabang ilmu untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan mereka di bidangnya masing-masing.

Dilihat dari pelestarian dan pengembangan budaya dan sastra daerah, filologi bernilai strategis. Objek studi filologi berasal dari berbagai daerah di nusantara yang dengan sendirinya membantu pelestarian dan pengembangan budaya dan sastra daerah. Rekonstruksi historis jadi mungkin dilakukan karena hasil kerja filologi. Selain rekonstruksi historis, adanya hasil kerja filologi bisa dijadikan dasar pemahaman akan kebudayaan bangsa Indonesia sebagai suatu pemahaman yang bisa dipertanggung jawabkan secara moral karena ditunjang oleh akar argemen yang kuat secara historis.

Kajian naskah lama bermanfaat bagi sumbangan kesusastraan Indonesia khususnya dan kesusastraan dunia umumnya baik dalam kajian sejarah sastranya maupun teori sastranya. Dengan ditemukannya naskah-naskah lama dan masih dalam keadaan baik dan terawat akan menjadikan khasanah sastra nusantara semakin kaya, menambah kekuatan sejarah kesusastraan di Indonesia dan mengaitkan pada adanya sumbangan pemikiran melalui bidang sastra dalam penyebaran dan identitas keagamaan di Indonesia serta memperkenalkan kekayaan budaya dan kesustraan berbagai daerah di Nusantara yang pernah berkembang di Indonesia.

Hasil filologi juga sangat bermanfaat para peneliti. Hasil penelitian filologi bisa dimanfaatkan untuk penelitian di bidang sastra, bahasa, filsafat, atau bidang ilmu lain. Dari sisi pengembagan budaya, penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk pengembagan budaya daerah yang pada akhirnya akan mengembangkan budaya nasional.
Manfaat-manfaat khusus yang dapat dinikmati dari hasil kerja filologi antara lain:

a.Untuk bidang bahasa, memperkaya perbendaharaan kata (istilah) dalam rangka penyusunan kamus;
b.Untuk Bidang Sastra, mengenal, mempelajari, dan menikmati karya sastra Lama yang ada di nusantara;
c.Untuk Bidang Sejarah, dapat digunakan sebagai sumber data sejarah masa lalu, terutama tentang sejarah kerajaan-kerajaan di nusantara;
d.Untuk Bidang Pendidikan, isi cerita dapat dijadikan suri teladan yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat sekarang.

http://pbsindonesia.fkip-uninus.org/media.php?module=detailartikel&id=10..

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung pornografi.
Anda bisa berkomentar dengan menggunakan pilihan: Nama/URL. Kolom URL bisa dikosongkan.