Gunung Gede

Buon Natale e anno nuovo 2013

Vrolijke Kerstmis en nieuwe jaar 2013

Judul Slide

Frohe Weihnachten und neues Jahr 2013

Memuat...

Minggu, 11 Maret 2012

Home » , , , , » Tujuh Komponen Pendekatan Kontekstual

Tujuh Komponen Pendekatan Kontekstual

Tujuh Komponen Pendekatan Kontekstual-Tujuh komponen CTL yang diterapkan dalam proses belajar-mengajar, yaitu: (1) konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). Ketujuh komponen tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. 

1) Konstruktivisme (Constructivism) 

Constructivism merupakan landasan berpikir (filosofis) pendekatan CTL, yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas dalam konteks yang terbatas, kemudian berkembang. Manusia harus mengonstruksi pengetahuan itu sehingga hal itu mampu memberikan makna dalam pengalaman kehidupan sehari-hari, yaitu pengalaman nyata dalam bentuk berbahasa.

Secara riil guru tidak mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Oleh karena itu, siswa harus mengonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri dengan menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain yang akan menjadi miliknya sendiri. Misalnya, keterampilan menulis dari yang sederhana akan berkembang hingga mampu menulis karya ilmiah dengan penguasaan pengetahuan dan wawasan yang memadai. Keterampilan menulis dapat berkembang dalam pengalaman. Kemampuan berbahasa berkembang makin ‘dalam’ apabila selalu diuji dengan pengalaman baru, pemodelan, dan dengan timbulnya rasa ingin tahu. 

Ciri khas paradigma pembelajaran konstruktivisme adalah keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses upaya belajar sesuai dengan kemampuan, pengetahuan awal, dan gaya belajar tiap-tiap siswa dengan bantuan guru sebagai fasilitator yang membantu siswa apabila mereka mengalami kesulitan dalam upaya belajarnya. Jadi, yang ditekankan dalam paradigma pembelajaran constructivistic adalah tingginya motivasi belajar siswa berdasarkan kesadaran akan pentingnya penguasaan pengetahuan yang sedang dipelajari, keaktifan dan keterlibatannya dalam merancang, melaksanakan, mengevaluasi kegiatan belajar sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang telah dimiliki serta disesuaikan dengan gaya belajar tiap-tiap siswa. Apabila paradigma konstruktivisme dipakai dalam proses pembelajaran, tujuan pembelajaran juga berubah dari orientasi hasil yang berupa penghafalan informasi faktual dan transfer informasi oleh guru ke siswa ke orientasi proses yang menekankan pengembangan keterampilan belajar, meniru gaya ilmuwan yang meliputi pengamatan, pengajuan pertanyaan kritis, pengajuan hipotesis, pengumpulan data untuk menguji hopotesis, trial and error, eksperimen, dan penarikan kesimpulan. 

Menurut pandangan konstruktivis, strategi memperoleh pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara: (1) menjadikan pengetahuan lebih bermakna dan relevan bagi siswa; (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam kegiatan belajarnya. 

2) Menemukan (Inquiry) 

Inquiry merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pembelajaran yang menggunakan inquiry menciptakan situasi yang memberikan kesempatan kepada siswa sebagai ilmuwan sehingga mereka betul-betul belajar. Siswa harus mampu mengamati dan mempertanyakan sebuah fenomena, mereka mencoba menjelaskan fenomena yang diamati, menguji kebenaran penjelasan mereka, kemudian menarik kesimpulan. 

Kegiatan inquiry diawali dengan pengamatan, dilanjutkan dengan pertanyaan, baik oleh guru maupun oleh siswa. Berdasarkan pertanyaan yang muncul, siswa merumuskan semacam dugaan dan hipotesis. Untuk mengetahui apakah dugaan mereka benar, siswa mengumpulkan data yang akhirnya menyimpulkan hasilnya. Jika hasil kesimpulan belum memuaskan, mereka kembali ke siklus semula, mulai dari pengetahuan dan seterusnya. Inquiry memberikan kesempatan kepada guru untuk belajar memahami cara berpikir siswa mereka. Dengan pengetahuan yang mereka miliki, guru dapat menciptakan situasi pembelajaran yang sesuai dan mempermudah siswa memperoleh ilmu pengetahuan yang sudah ditargetkan dalam kurikulum. 

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa inti pendekatan kontekstual adalah menemukan (inquiry). Siswa diberikan kesempatan menjadi ilmuwan dengan melakukan kegiatan awal dalam pengamatan, pertanyaan, dugaan atau hipotesis, pengumpulan data, dan penyimpulan. Selain itu, dalam inquiry digunakan dan dikembangkan keterampilan berpikir kritis. 

3) Bertanya (Questioning) 

Questioning merupakan strategi utama pembelajaran berbasis CTL. Pembelajaran berbasis CTL dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa, termasuk juga dalam membimbing dan mengarahkan pengetahuan siswa dalam berbahasa Indonesia. 

Keterampilan berbahasa yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian terpenting dalam melaksanakan pembelajaran berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Dalam pembelajaran bahasa, terdapat dua macam pertanyaan, yaitu pertanyaan seperti ‘mengapa…’, ‘bagaimana jika…’, merupakan jenis pertanyaan yang membawa siswa ke arah berpikir kritis dan kreatif. Pada pendekatan CTL, baik guru maupun siswa harus mengajukan pertanyaan. Selain untuk mengggali informasi faktual dari siswa, guru juga bertanya untuk mendorong, membimbing, dan menilai mereka. 

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru diarahkan untuk: (1) mengetahui apa yang telah diketahui siswa; (2) membangkitkan rasa ingin tahu; (3) memusatkan perhatian siswa pada suatu objek pembelajaran; (4) merangsang respons siswa; (5) memicu pertanyaan-pertanyaan selanjutnya; (6) menyegarkan kembali apa yang telah dipelajari; dan (7) mengetahui apakah siswa sudah memahami materi yang disajikan. 

4) Masyarakat Belajar (Learning Community) 

Learning community adalah sekelompok orang yang terlibat dalam kegiatan belajar yang memahami pentingnya belajar, baik belajar secara individual maupun berkelompok agar mereka dapat belajar lebih mendalam. Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Masyarakat belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberikan informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya, sekaligus minta informasi yang diperlukan. 

Pada kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Menurut Mukminatien (2003: 2) hakikat learning community adalah speak and share idea (berbicara dan berbagi gagasan) dan collaborative with others to create learning that is greater than if we work alone. 

Dalam pelaksanaan speak and share idea (berbicara dan berbagi gagasan), berbicara dalam kelompok dimaksudkan untuk berbagi. Dengan langkah ini, learning community merupakan implementasi dari cooperative learning. Sebagai salah satu inovasi pendidikan yang terbukti sangat bermanfaat dalam memaksimalkan hasil belajar, learning community dapat berupa kegiatan-kegiatan berkelompok, melibatkan siswa bekerja bersama pada suatu tim demi mencapai tujuan tertentu. 

Collaborative with others to create learning that is greater than if we work alone merupakan bentuk kerjasama dengan orang lain untuk mencapai hasil belajar yang tinggi (lebih besar) apabila dibandingkan dengan belajar sendiri. Hakikat kedua ini merupakan kaitan langsung mengapa learning community sangat penting. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa belajar dengan orang lain untuk memecahkan masalah akan menghasilkan pencapaian yang lebih baik jika dibandingkan dengan bekerja sendiri. 

Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seorang guru yang mengajar siswanya bukan contoh masyarakat belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru ke arah siswa dan tidak ada arus informasi yang perlu dipelajari guru yang datang dari arah siswa. Dalam contoh ini, yang belajar hanya siswa bukan guru. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, dan semua pihak saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa setiap orang memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari. Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, setiap orang akan kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. 

Metode pembelajaran dengan teknik learning community ini sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Praktiknya, dalam pembelajaran terwujud dalam pembentukan kelompok kecil, pembentukan kelompok besar, mendatangkan ‘ahli’ ke kelas (olahragawan, dokter, perawat polisi, dan sebagainya), bekerja dengan kelas sederajatnya, bekerja kelompok dengan kelas sederajat, bekerja kelompok dengan kelas di atasnya, dan bekerja dengan masyarakat. 

5) Pemodelan (Modeling) 

Komponen selanjutnya adalah modeling, maksudnya dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang dapat ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasionalisasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olahraga, contoh karya tulis, cara menghafal bahasa Inggris, atau guru memberikan contoh cara mengerjakan sesuatu. Guru memberi model tentang bagaimana cara belajar. Sebagian guru memberikan contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum siswa melakukan tugas. Misalnya, menemukan kata kunci dalam bacaan. Dalam pembelajaran tersebut, guru mendemonstrasikan cara menemukan kata kunci dalam bacaan dengan memanfaatkan gerak mata (scanning). Ketika guru mendemonstrasikan cara membaca cepat tersebut, siswa mengamati guru membaca dan membolak-balikkan teks. Gerak mata guru menelusuri bacaan menjadi perhatian utama siswa. Dengan demikian, siswa tahu bagaimana gerak mata yang efektif dalam melakukan scanning. 

Kata kunci yang ditemukan guru disampaikan kepada siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran menemukan kata kunci secara cepat. Kegiatan ini dinamakan pemodelan. Artinya, ada model yang bisa ditiru dan diamati siswa, sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci. Dalam kelas CTL, guru bukan satu-satunya model. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh temannya cara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lomba baca puisi atau memenangkan kontes berbahasa Inggris, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Siswa contoh tersebut dikatakan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai ‘standar’ kompetensi yang harus dicapai. 

6) Refleksi (Reflection) 

Reflection merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran CTL. Reflection merupakan cara berpikir tentang hal yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang hal-hal yang sudah dikatakan pada masa yang lalu. Siswa memahami, menghadapi, menghayati, dan mengendapkan hal yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan dan revisi dari pengetahuan sebelumnya. 

Reflection merupakan respons terhadap kejadian, kegiatan, atau pengetahuan baru yang diterima. Misalnya, ketika pelajaran berakhir, siswa merenung, “Kalau demikian, cara saya mengungkapkan pendapat kurang tepat selama ini.” Mestinya dengan cara yang baru saya pelajari ini, ungkapan dengan menggunakan kata-kata akan lebih baik. Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari dalam sebuah proses. Pengetahuan yang dimiliki siswa diperluas dalam konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan demikian, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang hal yang baru dipelajarinya. 

Kunci dari semua itu adalah bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak siswa. Siswa mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru. Pada akhir pembelajaran, guru perlu menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Realisasinya berupa: (1) pernyataan langsung yang berkaitan dengan hal-hal yang diperoleh; (2) catatan atau jurnal di buku siswa; (3) kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari ini; (4) diskusi; dan (5) hasil karya. 

7) Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment) 

Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar dapat memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar (Diknas, 2002: 19). Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasi bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, guru segera mengambil tindakan yang tepat agar mereka terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, assessment tidak dilakukan pada akhir periode (cawu/semester), tetapi hal itu dilakukan bersama secara terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran. 

Data yang dikumpulkan dalam kegiatan penilaian (assessment) tidak untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), tidak ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi pada akhir periode pembelajaran. Pendekatan kontekstual menuntut guru melakukan penilaian secara seimbang antara proses dan produk, antara bahasa lisan dan tulis untuk semua keterampilan berbahasa secara terintegrasi. Karena assessment menekankan proses pembelajaran, data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. 

Guru yang ingin mengetahui perkembangan belajar bahasa Indonesia siswanya harus mengumpulkan data dari kegiatan nyata pada saat mereka menggunakan bahasa Indonesia, tidak pada saat siswa mengerjakan tes bahasa Indonesia. Data yang diambil pada saat siswa melakukan kegiatan berbahasa Indonesia, baik di dalam kelas maupun di luar kelas disebut authentic. Kemajuan belajar dinilai dari proses, tidak hanya dari hasil. 

Penilaian authentic menilai pengetahuan dan keterampilan (performansi) yang ditunjukkan oleh siswa. Penilai tidak hanya guru, tetapi dapat juga teman sesama siswa, atau orang lain. Authentic assessment adalah bagian dari pembelajaran kontekstual yang meliputi berbagai bentuk penilaian yang mencerminkan bagaimana siswa belajar, bagaimana prestasi belajarnya, bagaimana motivasi dan sikapnya dalam semua kegiatan pembelajaran di kelas. Authentic assessment digunakan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk penilaian yang dapat menggambarkan hasil pembelajaran siswa, motivasi, dan kegiatan pembelajaran di dalam kelas (Malley & Pierce, 1994: 4). 

Menurut Tim CTL-Star University of Washington (dalam Kasihani, 2003: 2), authentic assessment adalah penilaian untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa. Pengetahuan dan keterampilan siswa tersebut harus ada penerapannya, serta yang dinilai adalah produk atau kinerja siswa. Selain itu, yang dinilai hendaknya relevan dengan tujuan dan sesuai dengan konteksnya. Penilaian otentik ini mempunyai ciri-ciri tersendiri, yaitu: (1) melibatkan pengalaman dunia nyata; (2) memanfaatkan sumber daya manusia dan peralatan yang ada; (3) terbuka peluang untuk mendapatkan informasi; (4) menyibukkan siswa dengan hal-hal yang relevan; (5) ada usaha dan latihan; (6) memasukkan penilaian dari (self-assessment) dan refleksi; (7) mengidentifikasi kelebihan/kekuatan siswa; (8) kriteria penilaian menjadi lebih jelas; (9) jawaban yang konstruktif; (10) siswa berpikir pada tingkat yang lebih tinggi; (11) tugas-tugas bermakna dan penuh tantangan; (12) tugas-tugas terpadu antara keterampilan berbahasa, pengetahuan, dan keterampilan lainnya; (13) menuntut adanya kerja sama kolaborasi; dan (14) berfokus pada tujuan. 

Pendekatan CTL menekankan penilaian otentik yang difokuskan pada tujuan pembelajaran, keterkaitan bahan, dan kolaborasi untuk memungkinkan siswa berpikir lebih tinggi. Penilaian otentik membuat siswa untuk menunjukkan penguasaan tujuan, kedalaman pemahaman, dan pada saat yang sama dapat meningkatkan pengetahuannya serta dapat menemukan cara untuk memperbaiki diri. Selain itu, penilaian semacam ini juga membuat siswa dapat menggunakan pengetahuan yang diperoleh di kelas sehingga mereka masuk dalam konteks dunia nyata. 

Diknas (2002: 20) membagi karakteristik authentic assessment atas: (1) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung; (2) dapat digunakan untuk formatif maupun sumatif; (3) yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta; (4) berkesinambungan; (5) terintegrasi; (6) dapat digunakan sebagai feedback. Adapun hal-hal yang dapat digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa adalah: (1) proyek/kegiatan dan laporannya; (2) PR; (3) kuis; (4) karya siswa; (5) presentasi atau penampilan siswa; (6) demonstrasi; (7) laporan; (8) jurnal; (9) hasil tes tulis; dan (10) karya tulis. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian yang sebenarnya adalah tidak hanya menekankan pada produk tetapi pada proses pembelajaran. Penilaian authentic adalah penilaian yang tidak hanya dilakukan oleh guru, tetapi dapat dilakukan oleh teman sesama siswa. Salah satu karakteristik authentic assessment adalah adanya refleksi (feedback), dan penajaman refleksi akan dapat dioptimalkan proses pembelajaran.

berbagai sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung pornografi.
Anda bisa berkomentar dengan menggunakan pilihan: Nama/URL. Kolom URL bisa dikosongkan.