Gunung Gede

Buon Natale e anno nuovo 2013

Vrolijke Kerstmis en nieuwe jaar 2013

Judul Slide

Frohe Weihnachten und neues Jahr 2013

Memuat...

Minggu, 12 Februari 2012

Home » » Ijtihad Sebagai Sumber Hukum Islam

Ijtihad Sebagai Sumber Hukum Islam

Ijtihad berasal dari kata jahada. Secara bahasa bermakna bersungguh-sungguh atau mengupayakan dengan segenap kemampuan untuk mengerjakan hal yang sulit. Ulama besar di bidang ushul seperti Abu Al Husain Ali yang dikenal juga dengan Al Amidi (w. 631 H) dan Muhammad bin Ali Asy Syaukani (w. 1255 H) mendefinisikan ijtihad sebagai, mengerahkan segenap kemampuan dalam rangka mencari dugaan kuat mengenai hukum syara dari bukti yang terperinci pada sumbernya. 


Sebagian yang lain menambahkan, “sampai mujtahid merasa tidak mampu lagi untuk mengeluarkan usaha apa-apa lagi” pada definisinya. Intinya, sebagai istilah hukum, ijtihad bermakna mengeluarkan semua usaha dalam mempelajari suatu masalah secara menyeluruh dan mencari solusinya dari sumber-sumber syariah. Ijtihad sebagai sumber hukum Islam harus kita lakukan dalam kehidupan.

Seseorang yang melaksanakan ijtihad disebut mujtahid, sedangkan orang yang mengetahui hukum syariah secara detail namun tidak mampu mengambil hukum secara langsung dari sumbernya bukanlah mujtahid tetapi hanya seorang fakih (ahli fikih), mufti (pemberi fatwa), qadhi (hakim). Ijtihad tidak dilaksanakan kecuali pada hukum syariah yang dalilnya tidak pasti (dzanny) dan tidak ketika aturannya pasti (qath’iy).

Mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup adalah salah total, ini adalah kesalahan fatal dari sebagian ulama yang sembarangan dalam sejarah dan jelas-jelas bertentangan dengan syariah. Nash syariah ada hari ini sebagaimana telah ada di masa yang lampau, karena itu ijtihad tidak hanya mungkin tapi juga perlu dan merupakan fardu kifayah (kewajiban yang hanya mensyaratkan keterpenuhannya saja).

Berikut ini adalah dalil-dalil diperbolehkannya ijtihad. Para sahabat berijtihad pada masa Rasulullah dan berbeda pendapat pada pengambilan kesimpulan suatu hukum sedang Rasulullah menerima hal tersebut. Hal ini bisa terlihat dari beberapa peristiwa berikiut.

1. Bukhari meriwayatkan dari Aisyah bahwa ketika Nabi kembali dari perang khandaq, Beliau meletakkan senjatanya lalu mandi. Jibril datang dan berkata, “Apakah kamu meletakkan senjatamu? Demi Allah, kami para malaikat belum meletakkannya. Pasang kembali senjata-senjata itu.” Rasulullah bertanya, “Pergi ke mana?” lalu Jibril menunjukkan Bani Quraizah.

Nabi memerintahkan muadzin untuk azan dan Beliau mengumumkan kepada orang-orang: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, dia tidak shalat asar kecuali di Bani Quraidzah.”

Lalu mereka berangkat menuju benteng Bani Quraidzah, namun mereka berbeda pemahaman atas apa yang Rasulullah perintahkan kepada mereka. Sebagian mengambil makna literal dan tidak shalat kecuali setelah sampai di Bani Quraidzah setelah magrib.

Sebagian yang lain menganggap itu artinya mereka harus pergi dengan segera, sehingga mereka dapat shalat asar di madinah atau di jalan.  Ketika Rasulullah mendengar hal ini, Beliau menerima semua perbuatan mereka.

2. Sabda Nabi ketika Beliau mengirim Muadz menjadi hakim di Yaman. “Bagaimana kamu akan mengambil keputusan?” Dia menjawab, “Dengan kitabullah.” Nabi kembli bertanya: “Bila tidak ada di sana?” Dia menjawab: “Dengan sunnah Rasulullah.” Kemudian Nabi kembali bertanya: “Dan jika kamu tidak menemukannya?” Muadz menjawab: “Saya akan menjalankan ijtihad.” Nabi menjawab: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan utusan Rasulullah mengikuti apa yang Allah dan rasul-nya cintai.”

(Ahmad:5/236, Abu Daud:3592, At Turmudzi:1327, Al Haafidz dalam kitab Al Talkhish, Ibnu Thahir berkata, hadits ini mempunyai dua jalan sanad kedua-duanya tidak shohih. At Turmudzi berkata, hadits ini tidak kami kenal kecuali dengan jalan ini. Juga bukan merupakan hadits muttasil, tetapi kepopuleran hadits ini di antara manusia dan penerimaan mereka terhadapnya merupakan perkara yang menguatkan hadits ini).

3. Hadits dari Rasulullah: “Jika hakim menetapkan keputusan maka berijtihadlah, jika dia benar maka dia akan mendapat dua pahala, sedangkan jika dia salah maka dia mendapat satu pahala.” (Muttafaq 'alaih)



Sumber:
http://www.anneahira.com/ijtihad-sebagai-sumber-hukum-islam.htm

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung pornografi.
Anda bisa berkomentar dengan menggunakan pilihan: Nama/URL. Kolom URL bisa dikosongkan.