Gunung Gede

Buon Natale e anno nuovo 2013

Vrolijke Kerstmis en nieuwe jaar 2013

Judul Slide

Frohe Weihnachten und neues Jahr 2013

Memuat...

Senin, 27 Februari 2012

Home » » Hubungan Sintagmatis dan Paradigmatis

Hubungan Sintagmatis dan Paradigmatis

HUBUNGAN SINTAGMATIS DAN PARADIGMATIS-Di dalam bahasa dikenal hubungan sintagmatis (hubungan linier) dan hubungan paradigmatis (hubungan unsur bahasa dengan unsur di luarnya, tetapi masih dalam tataran itu).

Hubungan Sintagmatis
Hubungan sintagmatis adalah hubungan linier antara unsur bahasa yang satu dan unsur bahasa yang lain dalam tataran tertentu. Hubungan itu dapat diuji dengan permutilasi atau perubahan urutan satuan unsur-unsur bahasa. Misalnya, kata-kata di dalam kalimat Saya bekerja keras dengan penuh disiplin dan tanggung jawab sudah mempunyai hubungan yang tetap dan tidak boleh diubah-ubah lagi. Jika diubah, maknanya akan berubah dan mungkin tidak dapat dipahami. Lihat contoh berikut!


a.       *Bekerja jawab keras dengan saya penuh tanggung dan disiplin.
b.      *Saya bekerja//keras dengan//penuh disiplin dan// y\tanggung jawab.

Kalimat (a) tidak memiliki makna karena urutannya kacau balau, sedangkan kalimat (b) tidak dapat dipahami karena kalimat itu dipenggal tidak menurut frasa pembentuknya.

Permutilasi atau perubahan urutan kata dalam kalimat dan pemenggaan kalimat harus mengikuti kaidah. Lihat hasil permutilasi dan pemenggalan kalimat yang berterima berikut ini!

a.       Dengan penuh disiplin dan tanggung jawab, saya bekerja keras.
b.      Saya//bekerja keras//dengan penuh disiplin/dan tanggung jawab.

Dengan mengetahui hubungan sintagmatis di dalam suatu bahasa, pemakai bahasa dapat mengisi tempat kosong untuk setiap satuan bahasa dalam struktur itu. Misalnya, jika seorang asing yang sudah memahami hubungan sintagmatis bahasa Indonesia hanya mendengar ucapan: [Besok kita… di rumah Pak Lurah], orang asing itu akan tahu bahwa bagian yang tidak terdengar itu adalah predikat. Besar kemungkinan predikat itu berupa kata kerja yang harus dilakukan oleh subjek karena pada kalimat itu subjek berperan sebagai pelaku (agentif).

Hubungan Paradigmatis
Hubungan paradigmatis berkaitan dengan hubungan unsur bahasa pada tingkat tertentu dengan unsur bahasa lainnya di luar tingkat itu, yang dapat dipertukarkan. Jadi, hubungan paradigmatis adalah hubungan sistematis antarunsur bahasa yang memiliki kesesuaian. Hubungan itu dapat diperoleh melalui substitusi atau penggantian. Oleh karena itu, hubungan paradigmatis menunjukkan unsur-unsur bahasa yang disubstitusi itu berada dalam kategori yang sama untuk setiap tataran. Perhatikan contoh pada setiap tataran berikut ini!

1)      Tataran fonemis
Fomen /s/ pada kata sarang mempunyai hubungan paradigmatis dengan fonem yang dapat menggantikannya, asalkan penggantian itu menghasilkan kata dalam kategori dan fungsi yang sama, misalnya fonem /s/, /b/, /p/, dan /k/ pada kata /s/arang, /b/arang, /p/arang, dan /k/arang, karena kata-kata itu berkelas nomina dan sama-sama dapat mengisi fungsi subjek atau objek. Akan tetapi, fomen itu tidak memiliki hubungan paradigmatis dengan fonem /g/ dan /l/ pada kata /g/arang dan /l/arang, karena garang berkelas adjektiva dan larang  berkelas verba dan dapat mengisi fungsi predikat.

2)      Tataran morfologis
Pada umumnya, urutan morfem dalam sebuah kata tidak dapat diubah-ubah menurut keinginan seseorang, misalnya sebagai pembentuk kata kerja, awalan meng- dan di-  selalu terletak pada awal kata, seperti pada menulis dan melancong serta ditempuh dan dijual. Urutan itu tidak mungkin dibalik menjadi *nulisme, *lancongme, *tempuhdi dan *jualdi. Berdasarkan kenyataan itu, pemakai bahasa dapat mengetahui bahwa memangkas, mencari, ditangkap, dan disambung juga kata kerja.

3)      Tataran sintaksis
Ada kalanya kata di dalam sebuah kalimat dapat diubah-ubah letaknya tanpa mengubah arti. Yang berubah akibat perubahan letak itu hanya pengutamaan informasi, seperti:
a)      Saya dan adik pergi kemarin.
b)      Kemarin saya dan adik pergi.
c)      Saya dan adik kemarin pergi.

Akan tetapi, pada kalimat berikut ini perubahan urutan membawa perbedaan makna walaupun kategori dan fungsi kata itu tetap sama.
a)      Saya dan adik makan nasi goreng kemarin. (‘nasi hampir basi’)
b)      Kemarin saya dan adik makan nasi goreng (bukan: hari ini)
c)      Saya dan adik kemarin makan nasi goreng. (bukan: orang lain)

Kalimat berikut ini berbeda makna akibat perbedaan pengisi subjek dan objek.
a)      Saya membantu adik. (Subjek: saya; Objek: adik, penerima bantuan)
b)      Adik membantu saya. (Subjek: adik; Objek: saya, penerima bantuan)

Arifin, Zaenal; Junaiyah.2008. Sintaksis. Jakarta: PT Grasindo. hlm 6-8

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung pornografi.
Anda bisa berkomentar dengan menggunakan pilihan: Nama/URL. Kolom URL bisa dikosongkan.