Gunung Gede

Buon Natale e anno nuovo 2013

Vrolijke Kerstmis en nieuwe jaar 2013

Judul Slide

Frohe Weihnachten und neues Jahr 2013

Memuat...

Minggu, 15 Januari 2012

Home » » Unsur-unsur Novel

Unsur-unsur Novel

Unsur-unsur yang terdapat dalam novel ada dua, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik yaitu unsur-unsur dalam yang membangun utuhnya sebuah novel. Unsur intrinsik contohnya tema, alur, latar, tokoh, penokohan, sudut pandang, gaya cerita, dan amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur luar yang ikut membangun utuhnya sebuah novel seperti keagamaan, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan nilai-nilai yang dianut masyarakat.

A.  Unsur Intrinsik Novel

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra. Unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra.

Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat novel terwujud. Atau sebaliknya, jika dari sudut pandang pembaca, unsur-unsur (cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca novel. Unsur yang dimaksud, untuk menyebut sebagian saja, misalnya tema, peristiwa, cerita, plot, penokohan, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2000:23).

Dari uraian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa unsur intrinsik sebuah novel itu diantaranya adalah tema, tokoh, penokohan, latar, alur sudut pandang, dan, amanat. Unsur tersebut dibangun dengan perpaduan yang menyatu dan berkesinambungan.

1.    Tema
Stanton dan Kenny dalam Nurgiyantoro (2000:67) berpendapat bahwa tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Pengarang dalam menulis sastra biasanya bercerita tetapi hendaknya mengatakan sesuatu kepada pembacanya. Karya sastra yang baik tentunya harus bermakna. Makna sebuah cerita novel tidak secara jelas dikatakan oleh pengarang tetapi menyatu dengan unsur novel yang harus ditafsirkan pembaca. Secara singkat, Brooks dan Waren mengatakan hal yang sama bahwa tema adalah dasar atau makna sebuah cerita (Tarigan, 1984:688).

Aminuddin (2002:91) menjelaskan bahwa tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Selain itu Fananie (2001:84) juga menjelaskan Ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatar belakangi cipta karya sastra merupakan inti dari tema

Tema berarti pokok pikiran atau masalah yang dikemukakan dalam sebuah cerita atau puisi oleh pengarangnya (Badudu dan Zain, 1994:16463). Dengan, tema semua permasalahan dalam sebuah karya sastra akan terwujud dengan baik dan benar. Oleh karena itu, peranan tema menjadi pokok pikiran yang diutamkan dalam membuat karya sastra.

Dari beberapa pendapat diatas yang telah dikemukakan di atas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa tema merupakan suatu ide, pokok pikiran yang mengandung mkana dan merupakan suatu gagasan sentral dalam sebuah cerita.

2.      Tokoh dan Penokohan

Jalan cerita dalam novel dilakukan oleh tokoh cerita. Tokoh ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Sudjiman, 1991:16). Tokoh pada umumnya berwujud manusia, tetapi juga dapat berwujud binatang atau benda-benda yang diinsankan. Individu ini semata-mata hanya bersifat rekaan, tidak ada dalam dunia nyata. Bila pun ada mungkin hanya kemirip-miripan dengan individu tertentu yang memiliki sifat-sifat yang sama yang kita kenal dalam kehidupan kita.

Pengertian tentang tokoh di umgkapkan pula oleh Abram yang di kutif dari Nurgiyantoro (2000:165) bahwa tokoh cerita (character) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya fiksi, oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral yang diekspresikan dalam ucapan dan dalam tindakan. Tokoh yang baik dalam cerita adalah tokoh yang dianggap oleh pembaca sebagai tokoh konkret. Walaupun tokoh cerita hanya merupakan tokoh ciptaan, ia haruslah merupakan seorang tokoh yang hidup secara wajar.

Membicarakan masalah tokoh berarti membicarakan pula penokohan. Penokohan menyaran pada perwatakan, karakter dari tokoh yang menunjuk pada sifat dan sikap. Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan tokoh-tokoh dalam cerita (Kosasih, 2003:256).

Berdasarkan definisi tentang tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah pelaku cerita yang ditampilkan pengerang sesuai dengan penggambaran aspek kejiwaan dan tinngkah laku seseorang dalam kehidupan. Sedangkan penokohan adaah watak yang dimilki oleh tokoh cerita.

3.      Latar

Latar adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat, waktu dan keadaan yang menimbulkan peristiwa dalam sebuah cerita. Peristiwa-peristiwa terjadi pada suatu waktu dan pada tempat tertentu (Yusuf, 1995:159). Hal itu sejalan dengan yang diungkapkan Sudjiman (1991:44). Ia mengungkapkan bahwa Secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya membangun latar cerita

Hal serupa diungkapkan oleh Abram dalam Nurgiyantoro (2000:216) yang menyebutkan bahwa latar sebagai landas tumpu yang menyaran pada tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa diceritakan. Latar memberikan pijakan secara konkret dan jelas. Hal ini sangat penting untuk memberikan kesan yang lebih realistis kepada pembaca, sehingga pembaca mampu menggunakan daya imajinasinya. Suasana yang diceritakan seolah-olah pernah terjadi.

Pentingnya latar dalam novel dikemukakan pula oleh Hartoko dan Rahmanto (1986:78). Dikatakan bahwa latar adalah penempatan dalam ruang dan waktu seperti terjadi dengan karya naratif atau dramatis. Latar penting untuk menciptakan suasana dalam karya. Selanjutnya Maman Mahayana (2005:178) menjelaskan pengahadiran latar oleh pengarang tentu bukan tanpa maksud. Ada sesuatu yang hendak disampaikan, baik untuk keindahan, maupun untuk memperkuat tema. Hal tersebut merupakan bagian dari fungsi latar pada sebuah novel.

Lebih luas lagi Sumarjo (1986:75) menambahkan bahwa setting atau latar dalam karya fiksi bukan hanya sekedar background artinya bukan hanya menunjukan tempat kejadian dan kapan terjadinya. Sebuah novel memang harus terjadi di suatu temoat dan dalam suatu waktu. Intinya sebuah cerita didasarkan atas tempat atau ruang terjadinya sebuah peristiwa.

Sedangkan Kenney dalam Sudjiman (1991:44) menegaskan bahwa latar meliputi penggambaran lokasi geografis, temasuk tipografi pemandangan, sampai kepada perincian perlengkapan sebuah ruangan. Misalnya pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu terjadinya peristiwa, masa sejarahnya, musim terjadinya termasuk lingkungan agama, moral, intelektual, sosial masyarakat serta emosional para tokoh.

Latar dibagi ke dalam dua jenis yaitu latar fisik dan latar spritual. Latar fisik terdiri dari latar tempat dan waktu. Nama-nama lokasi tertentu seperti nama kota, desa, jalan, sungai, dan lain-lain. Hubungan waktu seperti tahun, tanggal, pagi, siang, malam, dan lain-lain yang menyaran pada waktu tertentu merupakan latar waktu. Latar spritual dalam karya fiksi berwujud tata cara, adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku ditempat bersangkutan. Ada juga yang menyebutnya sebagai latar sosial.

Seperti yang telah dikemukakan, unsur latar di bedakan atas tiga unsur pokok yaitu tempat, waktu dan sosial. Ketiga unsur tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Dari definisi latar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa latar adalah lingkungan sosial, tempat dan waktu yang diciptakan pengarang guna memberikan kesan realistis kepada pembaca mengenai peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.

4.      Alur

Alur atau plot merupakan kerangka dasar yang amat penting. Alur mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain, bagaimana suatu peristiwa mempunyai hubungan dengan peristiwa lain.  Plot sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat.

Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Aminuddin, 2002:83). Latar merupakan cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.

Dari uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa plot merupakan rangkaian peristiwa dalam suatu cerita berdasarkan hubungan sebab akibat dan maju mundurnya waktu.

5.       Sudut Pandang

Dalam penyampaian cerita, pengarang dapat menggunakan sudut pandang melalui cerita. Dalam hal ini, pencerita tidak sama dengan pengarang. Pencerita adalah tokoh yang menyampaikan cerita yang dapat dilakukan melalui pencerita orang pertama (aku) dan orang ketiga (dia). Oleh karena itu, perncerita bisa dibedakan berdasarkan siapa penceritanya (Mahayana, 2005: 157).

Abrams menyatakan bahwa sudut pandang atau Point of view, menyaran kepada sebuah cerita dikisahkan. Ini merupakan cara ataupandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2000: 142). Sudut pandang juga merupakan teknik yang dipergunakan pengarang untuk menemukan dan menyampaikan makna karya artistiknya, untuk dapat sampai dan berhubungan dengan pembaca.

Sudut pandang cerita itu sendiri secara garis besar dapat dibedakan ke dalam dua macam, yaitu persona pertama, first-persona, gaya “Aku”, dan persona ketiga, third-persona, gaya “Dia”. Jadi dari sudut pandang “Aku” dan “Dia” , dan variasinya, sebuah cerita dikisahkan. Kedua sudut pandang tersebut masing-masing menuntut konsekuensinya sendiri. Pleh karena itu, wilayah kebebasan dan keterbatasan perlu diperhatikan secara objektif sesuai dengan kemungkinan yang dapat dijangkau sudut pandang yang dipergunakan. Bagaimana pun pengarang mempunyai keterbatasan yang tak terbatas. Ia dapat mempergunakan beberapa sudut pandang dalam sebuah kaya jika hal itu dirasakan lebih efektif (Nurgiyantoro: 2000: 251).

Berdasarkan pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa sudut panang merupakan penempatan diri pengarang dan cara pengarang dalam melihat kejadian-kejadian dalam cerita yang dipaparkannya.

6.      Amanat

Amanat adalah suatu ajakan moral, atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Amanat terdapat pada sebuah karya sastra secara implisit ataupun eskplisit. Implisit, jika jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan di dalm tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir (Sudjiman, 1991:35). Eksplisit, jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasihat, ujaran, larngan, dan sebagainya, berkenaan dengan gagasan yang mendasari gagasan itu (Sudjiman, 1991:24).

Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan amanat adalah pesan atau nasihat pengarang yang disampaikan kepada pembaca, secara implisit ataupun eksplisit.

B.         Unsur Ekstrinsik Novel

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, namun secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra (Nurgiyantoro, 2000:24), unsur-unsur ekstrinsik ini anatara lain adalah keadaan subjektivitas individu pengarang yang mempunyai sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang semuanya akan mempengaruhi karya sastra yang ditulisnya. Tjahjno (1988:450) juga mengutarakan bahwa unsur ekstrinsik karya sastra adalah hal-hal yang berada di luar struktur karya sastra, namun amat dipengaruhi karya sastra tersebut.

Menurut Rene Wellek dan Austin Warren dalam Tjahajono (1988:450), pengkajian terhadap segi ekstrinsik karya sastra mencakup empat hal yaitu:

  1. Mengkaji hubungan antara sastra dengan biografi atau psikologi pengarang. Yang jelas anggapan dasarnya bahwa latar belakang kehidupan pengarang tau kejiwaannya akan mempengarauhi terhadp proses penciptaan karya sastra.
  2. Mengkaji hubungan sastra dengan aspek-aspek politik, sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Situasi sosial palitik ataupun realita budaya tertentu akan berpengaruh terhadap karya sastra.
  3. Mengkaji hubungan antara sastra dengan hasil-hasil pemikiran manusia, ideologi, filsafat, pengetahuan, dan teknologi.
  4. Mengkaji hubungan antara sastra dengan semangat zaman, atmosfir atau iklim aktual tertentu. Semangat zaman di sini bisa menyangkut masalah aliran semanagt digemari saat ini.
Unsur ekstrinsik sebuah karya sastra bergantung pada pengarang menceritakan karya itu. Unsur ekstrinsik mengandung nilai dan norma yang telah dibuatnya. Norma adalah suatu ketentuan atau peraturan-peraturan yang berlaku dan harus ditaati oleh seseorang. Di dalam Dictionary Of Sociology and Related Sciences dikemukakan juga bahwa nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia (Kaelan, 2002:174).


sumber:  http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/06/unsur-unsur-novel/

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung pornografi.
Anda bisa berkomentar dengan menggunakan pilihan: Nama/URL. Kolom URL bisa dikosongkan.