Gunung Gede

Buon Natale e anno nuovo 2013

Vrolijke Kerstmis en nieuwe jaar 2013

Judul Slide

Frohe Weihnachten und neues Jahr 2013

Memuat...

Rabu, 18 Januari 2012

Home » » Teori Belajar Bahasa; Kemampuan anak manusia untuk dapat menguasai bahasa pertamanya

Teori Belajar Bahasa; Kemampuan anak manusia untuk dapat menguasai bahasa pertamanya

Teori Belajar Bahasa

Kemampuan anak manusia untuk dapat menguasai bahasa pertamanya dalam waktu yang relatif singkat, hanya beberapa tahun pertama, sungguh merupakan keajaiban dan menjadi perhatian utama para ahli pembelajaran bahasa maupun ahli  psikolinguistik. Coba Anda bayangkan. Ketika masih bayi, anak itu lahir dengan menangis, kemudian ia mulai mendekut (cooing), kemudian mengoceh (babbling). Pada saat itu ia menghasilkan bunyi-bunyi yang tidak jelas maknanya yang terdiri atas gabungan bunyi-bunyi vokal dan nonvokal. Ketika anak itu mencapai umur satu setengah tahunan, mulai menghasilkan ujaran satu kata. Pada usia itu, misalnya, Echa, subjek penelitian longitudinal pemerolehan bahasa yang dikerjakan oleh Dardjowidjojo (2000) mulai dapat mengucapkan kata-kata sebagai berikut ini.
[mama] ‘ibu’ [pel] ‘apel’
[papa] ‘bapak’ [da] ‘kuda’
[be] ‘mobil’ [pah] ‘jerapah’
[tam] ‘jam’ [dah] ‘gajah’
[da] ‘sepeda’ [nEt] ‘monyet]
[tan] ‘ikan’ [atu] ‘sepatu’
Sampai dengan umur dua tahun, Echa sudah menguasai 465 kata dan pada umur lima tahun, Echa sudah menguasai 1140 kata. Sebelum berumur lima tahun sebagian besar kalimat tunggal telah dikuasai oleh Echa. Pada umur lima tahun kemampuannya mengucapkan kalimat tunggal semakin baik dan Echa juga sudah memperoleh kalimat majemuk. Berikut ini adalah contoh-contohnya.
Nanti taruh di bawah, biar nggak ketahuan mama bahwa Echa punya buku baru. (Umur empat tahun empat bulan)
Batman mah nggak usah pake apa-apa, kalo Batman, soalnya dia punya jubah. (Umur empat tahun tiga bulan)
Hei, nggak usah gede-gede, suaranya yang rusak, bukan filmnya; suaranya nggak udah gedein dikit, gedein dikit sampai ke 3; udah segitu. (Umur empat tahun tujuh bulan)
Banyak kajian dilakukan untuk mengamati bagaimana anak memperoleh bahasa dalam lima tahun pertama dalam hidupnya. Di Indonesia, kajian semacam itu dilakukan oleh seorang pakar linguistik, Sunjono Dardjowidjojo (2000). Ia mengamati perkembangan bahasa cucunya yang bernama Echa selama lima tahun. Dalam lima tahun Echa, sang cucu ternyata telah dapat menguasai bahasa Indonesia yang dapat digunakan untuk berkomuniaksi. Studi semacam itu juga sudah banyak dilakukan oleh pakar-pakar dari negara-negara Barat untuk menyingkap tabir rahasia anak belajar bahasa. 
Gelombang penelitian itu telah memandu para guru bahasa dan para pelatih guru bahasa untuk mengkaji temuan-temuan umum semacam itu yang pada gilirannya dicoba ditarik simpulan persamaan belajar bahasa pertama dengan belajar bahasa kedua. Bahkan, dicoba juga untuk menerapkannya dalam pembelajaran bahasa di kelas tentang prinsip-prinsip belajar bahasa.
Dalam pembelajaran bahasa terdapat beberapa teori yang sangat berbeda pendapatnya. Kelompok pertama, yakni yang berorientasi pada psikologi behaviorisme,  yang kedua adalah pendekatan generatif yang berakar pada teori psikologi nativisme dan teori psikologi kognitivisme, sedangkan yang ketiga ialah pendekatan fungsional yang berakar pada psikologi konstruktivisme. Ketiga teori itu ternyata mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam dunia ilmu bahasa. Oleh sebab itu, ketiga teori itu akan kita bicarakan satu per satu dalam ulasan berikut ini.

1. Teori Behavioris
Bahasa merupakan bagian fundamental dari keseluruhan perilaku manusia. Demikianlah kaum behavioris melihat bahasa dan kaum behavioris mencoba untuk memformulasikan teori yang taat asas tentang pemerolehan bahasa pertama. Pendekatan behaviorisme memumpunkan perhatiannya pada aspek yang dapat dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa dan hubungan antara respons dan peristiwa di dunia yang mengelilinginya. Seorang behavioris menganggap bahwa perilaku berbahasa yang efektif merupakan hasil respons tertentu yang dikuatkan, respons itu akan menjadi kebiasaan atau terkondisikan. Jadi, anak dapat menghasilkan respons kebahasaan yang dikuatkan, baik respons yang berupa pemahaman atau respons yang berwujud  ujaran. Seseorang belajar memahami ujaran dengan mereaksi stimulus secara memadai dan ia memperoleh penguatan untuk reaksi itu.
Salah satu percobaan yang terkenal untuk membentuk model perilaku berbahasa dari sudut pandang behavioris ialah yang dikemukakan oleh Skinner (1957) dalam Verbal Behaviour. Skinner dikenal dengan percobaannya tentang perilaku binatang yang terkenal dengan sebutan kotak Skinner. Teori Skinnner tentang perilaku verbal merupakan peluasan teorinya tentang belajar yang disebutnya operant conditioning. Konsep ini mengacu pada kondisi di mana manusia  atau binatang mengirimkan respons atau operant (ujaran atau sebuah kalimat), tanpa adanya stimulus yang tampak. Operant itu dipertahankan dengan penguatan. Misalnya, jika seorang anak kecil mengatakan minta susu dan orang tuanya memberinya susu, operant itu dikuatkan. Dengan perulangan yang terus-menerus operant semacam itu akan terkondisikan. Menurut Skinner, perilaku verbal, seperti perilaku yang lain, dikendalikan oleh akibatnya. Bila akibatnya itu hadiah, perilaku itu akan terus dipertahankan dan kekuatan serta frekuensinya akan terus dikembangkan. Bila akibatnya hukuman, atau bila kurang adanya penguatan, perilaku itu akan diperlemah atau pelan-pelan akan disingkirkan. Amatilah anak-anak kecil di sekeliling Anda. Ada anak kecil menangis minta kerupuk kepada ibunya. Tetapi, karena ibunya yakin dan percaya bahwa kerupuk itu khususnya yang dijual di pinggir-pinggir jalan tidak higienis, minyaknya berkualitas jelek, pengolahannya tidak sehat, sang ibu tidak meluluskan permintaan anaknya. Sang anak terus menangis.Tetapi, sang ibu bersikukuh tidak menuruti permintaannya.  Lama-kelamaan tangis anak akan reda dan kali lain ia tidak akan minta kerupuk semacam itu lagi kepada ibunya; apalagi dengan menangis. Seandainya anak itu tadi kemudian dituruti keinginannya oleh ibunya, apa terjadi? Pada kesempatan yang lain sang anak akan minta kerupuk lagi. Apabila ibunya tidak meluluskannya maka ia akan menangis dan terus menangis sebab dengan menangis, sang anak akan mendapatkan kerupuk. Kalau sang ibu memberinya kerupuk lagi, maka perbuatan menangis itu dikuatkan. Pada kesempatan lain ia akan menangis manakala ia akan minta sesuatu kepada ibunya.
Skinner ternyata banyak sekali penentangnya. Di antaranya ialah Noam Chomsky (1959) yang memberikan kritik yang tajam atas Verbal Behavior Skinner itu. Tetapi, beberapa tahun kemudian muncullah pendukung Skinner yakni Kenneth MacCorquodale (1970) yang memberikan jawaban atas kritik Chomsky itu dan berusaha untuk mempertahankan pendapat Skinner. Beberapa linguis dan ahli psikologi sependapat bahwa model Skinner tentang perilaku berbahasa dapat diterima secara memadai untuk kapasitas memperoleh bahasa, untuk perkembangan bahasa itu sendiri, untuk hakikat bahasa, dan untuk teori makna. Teori yang didasarkan pada penciptaan kondisi dan penguatan itu ternyata sulit untuk menjelaskan fakta bahwa ada kalimat baru yang kita ujarkan atau kita tulis yaitu kalimat yang tak pernah kita ujarkan atau kita tuliskan sebelumnya. Ujaran yang baru itu diciptakan oleh pembicara dan diproses oleh pendengarnya.
Dalam upaya memperluas dasar teori behaviorisme, beberapa ahli psikologi mengusulkan modifikasi teori behaviorisme yang terdahulu. Salah satu di antaranya ialah teori modifikasi yang dikembangkan dari teori Pavlov, yakni teori kontiguitas. Makna, misalnya, dipertanggungjawabkan dengan pernyataan bahwa rangsangan kebahasaan (kata atau kalimat) memancing respons mediasi, yaitu swastikulasi. Charles Osgood (1957) menyebut swastimulasi itu sebuah proses mediasi representasional, yakni proses yang tidak tampak yang bergerak dalam diri pembelajar. Jadi, teori mediasi mencoba menjelaskan hakikat bahasa dengan makna yang berbau mentalisme.
Dalam teori mediasi masih terdapat pertanyaan-pertanyaan  tentang bahasa yang tidak dapat dijawab. Hakikat bahasa dan hubungan integral antara makna dan ujaran tak terpecahkan. Semua kalimat mempunyai struktur batin, yakni tataran makna yang hanya diwujudkan secara jelas oleh struktur permukaan.  Struktur batin itu mempunyai realitas psikologis, sebuah realitas yang berhubungan dengan sistem makna seseorang dan pengetahuannya, yang semuanya merupakan bagian utuh dari pengalaman kognitif dan afektif seseorang. Struktur batin bahasa ini dengan kasar telah dicela oleh teori mediasi.
Upaya lain untuk mendukung teori behaviorisme dalam pemerolehan bahasa dikerjakan oleh Jenkins dan Palermo (1964). Mereka menyatakan bahwa gagasannya masih bersifat spekulatif dan merupakan gagasan awal. Mereka berupaya untuk mensintesiskan linguistik genaratif dengan pendekatan mediasi untuk bahasa anak. Mereka menyatakan bahwa anak mungkin memperoleh kerangka tata bahasa struktur frase dan belajar ekuivalensi stimulus respons yang dapat diganti dalam tiap kerangka. Imitasi merupakan sesuatu yang penting kalau tidak dikatakan sebagai aspek esensial untuk menentukan hubungan stimulus respons. Tetapi, teori ini juga gagal untuk menjelaskan hakikat bahasa yang abstrak. Teori ini juga tidak dapat menjelaskan secara memuaskan tentang proses generalisasi yang disimpulkan dalam teori itu, dan juga tidak dapat menjelaskan adanya kreativitas pada anak-anak ketika memahami atau menghasilkan ujaran yang baru. David McNeill (1968) lebih jauh menunjukkan bahwa tidak mungkin bagi anak untuk memperoleh semua kerangka dan butir yang dikatakan oleh teori Jenkins dan Palermo.
Tampaklah bahwa pendapat para ahli psikologi behaviorisme yang menekankan pada observasi empirik dan metode ilmiah hanya dapat mulai menjelaskan keajaiban pemerolehan dan belajar bahasa dan ranah kajian bahasa yang sangat luas masih tetap tak tersentuh. Tampaknya ranah itu hanya dapat dijelajahi oleh pendekatan yang dapat menggalinya lebih dalam.

2. Teori Generatif
Pembicaraan tentang berbagai teori belajar bahasa itu dapat diibaratkan sebagai sebuah kontinuum. Di ujung yang satu berdiri tegak teori behaviorisme dan di ujung lain berdiri kukuh teori yang akan kita bahas sekarang ini, yakni teori generatif. Teori generatif mengguakan pendekatan rasionalistik. Teori itu melemparkan pertanyaan yang lebih dalam untuk mencari penjelasan yang gamblang dan jelas tentang rahasia pemerolehan dan belajar bahasa. Kegagalan atau setidak-tidaknya penjelasan yang masih bersifat parsial dari pandangan behaviorisme tentang bahasa anak-anak menyebabkan kita bertanya lebih banyak lagi. Tidak ada penelitian ilmiah yang menunjukkan kedalamannya dan ketuntasannya.
Ada dua tipe teori generatif yang telah membuat markanya masing-masing dalam penelitian bahasa. Keduanya beragih ujung yang sama pada kontinuum. Tipe pertama ialah golongan nativis dan kedua ialah golongan kognitivis.

a. Nativisme
Istilah nativisme dihasilkan dari pernyataan mendasar bahwa pembelajaran bahasa ditentukan oleh bakat. Bahwa kita dilahirkan itu sudah memiliki bakat untuk memperoleh dan belajar bahasa. Teori tentang bakat bahasa itu memperoleh dukungan dari berbagai sisi. Eric Lenneberg (1967) membuat proposisi bahwa bahasa itu merupakan perilaku khusus manusia dan bahwa cara pemahaman tertentu, pengkategorian kemampuan, dan mekanisme bahasa yang lain yang berhubungan ditentukan secara biologis. Chomsky (1965) menyatakan dengan cara yang hampir sama bahwa eksistensi bakat tersebut bermanfaat untuk menjelaskan rahasia penguasaan bahasa pertama anak dalam waktu yang singkat. Padahal, kaidah bahasa begitu banyak. Menurut Chomsky, bakat bahasa itu terdapat dalam kotak hitam (black box) yang disebutnya sebagai language acquisition device (LAD) atau piranti pemerolehan bahasa. McNeill mendeskripsikan LAD itu terdiri atas empat bakat bahasa, yakni:
1) kemampuan membedakan bunyi ujaran dengan bunyi yang lain dalam lingkungannya;
2) kemampuan mengorganisasikan peristiwa bahasa  ke dalam variasi yang beragam;
3) pengetahuan adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sistem yang lain yang tidak mungkin;
4) kemampuan untuk tetap mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk sistem yang mungkin dengan cara yang paling sederhana dari data kebahasaan yang diperoleh. 
Untuk memahami dengan baik konsep LAD McNeill itu, perhatikanlah anak-anak yang ada di sekeliling Anda. Ardo, misalnya,  adalah seorang anak laki-laki yang berusia dua setengah tahun. Ia sudah pintar berkomunikasi dengan ayah dan ibunya, serta kakak-kakaknya, bahkan dengan teman-temannya. Perhatikan dialog berikut ini.
Bapak : Ardo sudah mandi belum?
Ardo : Udah.
Bapak : Dingin enggak?
Ardo : Ndak. (Ardo biasa mandi memakai air hangat).
(Tiba-tiba terdengar suara tokek berbunyi).
  Pa, ada entek (maksudnya tokek).
Bapak : Bagaimana bunyi tokek, Ardo?
Ardo : Otok, otok, entek, otok, otok entek.
Bapak : Bunyinya entek, entek, begitu? (Bapaknya mencoba menggodanya)
Ardo : Butan. Otok, otok entek, otok,otok, entek.
Bapak : (tertawa) Oh, otok,otok tekek, otok,otok tekek, begitu?
Ardo : Iya.
Ardo yang berumur dua tahun itu sudah bisa membedakan antara bunyi bahasa, yang hanya berasal dari alat ucap manusia, dengan bunyi lain, yakni bunyi binatang tokek. Manusia sejak lahir sudah dikaruniai bakat, kemampuan untuk dapat membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi lain di sekitarnya. Ketika Ardo dipanggil namanya, ia akan menjawab. Tetapi, ketika, misalnya, ada seekor kucing mengeong di dekatnya, ia tidak akan menjawab, suara kucing itu. Mungkin ia bereaksi, tetapi jelas bukan untuk menjawab sang kucing, tidak seperti ketika ia dipanggil oleh teman, kakak, atau oleh ayah dan ibunya.
Contoh peristiwa berikut ini adalah bukti bahwa anak manusia sejak lahir sudah dikaruniai bakat untuk dapat memiliki pengetahuan tentang kalimat yang mungkin dan kalimat yang tidak mungkin. Kalau mau tidur, lazimnya Ardo dininabobokkan oleh ibu atau bapaknya dengan lagu yang sudah sangat terkenal, yakni lagi Nina Bobok. 
Ibu : Nina bobok, oh, nina bobok. Kalau nggak bobok digigit nyamuk.
Ardo : (tampaknya belum tidur, dan menirukan ibunya) Nina bobok, oh nina bobok,
 talau ndak bobok dididit pak aum. (Pak aum, maksudnya harimau).
Dari contoh itu jelas Ardo memproduksi ujaran yang belum pernah dipajankan sebelumnya. Ia mampu menghasilkan ujaran-ujaran baru, yakni ujaran-ujaran yang mungkin. Bentuk nyamuk digantinya dengan harimau yang memang secara gramatikal itu benar. Ia tidak akan memproduksi, misalnya, jika ndak bobok dididit minum. Ardo sudah mempunyai kemampuan bawaan bahwa bentuk minum dalam hal ini tidak dapat menggantikan posisi nyamuk. Bahkan dalam kesempatan yang lain ia memproduksi bentuk ujaran [dididit aak (kakak), dididit mama, dididit titus, dididit anjin], dan seterusnya. Jadi, kemampuan untuk membedakan kalimat yang gramatikal dan kalimat yang tidak gramatikal sudah merupakan bakat bawaan manusia.
Perhatikan perilaku berbahasa Ardo pada contoh di atas. Ardo belum dapat mengucapkan bunyi [k, g, ]. Ia juga belum dapat mengucapkan bunyi [l, r]. Bahkan untuk menyebut [tokek] ia mengatakan [entek]. Seiring perjalanan waktu ia akan terus-menerus mengevaluasi sistem bahasanya dan pada saatnya nanti ia pasti akan dapat mengucapkan bunyi-bunyi itu dengan tepat. Hal itu terjadi pada kakaknya, Fredo, yang sekarang sudah berumur 12 tahun. Pada usia lima tahun, Fredo mampu dengan baik mengucapkan bunyi, [k, g, l, r] dan juga dengan tepat ia mengucpkan tokek, meskipun pada saat seusia Ardo, Fredo juga menunjukkan perilaku berbahasa yang tak jauh berbeda dengan Ardo. Manusia mempunyai bakat untuk terus-menerus mengevaluasi sistem bahasanya dan terus-menerus mengadakan revisi untuk pada akhirnya menuju bentuk yang berterima di lingkungannya.
Argumentasi filosofis yang dikemukakan McNeill (1968) tentang LAD itu   benar-benar tepat dan langsung sasaran. Menurut McNeill, karena teori stimulus-respons itu begitu terbatas, maka masalah pemeroelhan dan pembelajaran bahasa itu jauh dari jangkauannya. Proposisi LAD benar-benar mengarah pada aspek rawan pemerolean  bahasa. Aspek makna, keabstrakan  dan kreativitas dapat dijelaskan meskipun hanya secara implicit. Jika tadi diconttohkan Ardo dapat secara kreatif membentuk frase baru digigit kakak, digigit bapak, digigit ibu, digigit anjing, digigit tikus dan sebagainya, kreativitas semacam itu dapat dilacak dan dijelaskan karena manusia dikaruniai bakat untuk berkreasi semacam itu. Ada piranti yang dipolakan dalam otak manusia. Siapa yang memberikan? Tuhan Yang Maha Agunglah yang memberikan karunia itu.
Mungkin kita akan menyangkal akan adanya piranti pemerolehan bahasa  atau LAD itu karena pada kenyataannya piranti itu tidak kasat mata, tidak dapat diobservasi. Yang dapat kita ketahui atau yang dapat kita lacak adalah gejala pemerolehan bahasanya. Nah, Anda mungkin akan berkomentar bahwa kaum nativis dalam hal ini tidak akan lebih baik dari kaum behavioris untuk memecahkan misteri pemerolehan dan pembelajaran bahasa. Namun, bagaimanapun juga, McNeill telah memberikan sumbangan penting untuk penelitian lebih lanjut seperti sistem bahasa yang abstrak, kesemestaan bahasa, teori makna, dan hakikat pengetahuan manusia. Ini merupakan arah permulaan yang positif yang menghasilkan banyak kemungkinan yang tidak diketahui oleh kaum  behavioris.
Sumbangan lain kaum nativis yang dapat dianggap praktis ialah bukti bila kita melihat penemuan yang dibuat tentang bagaimana sistem bahasa anak itu bekerja. Chomsky, McNeill, dan koleganya membantu kita untuk melihat bahwa bahasa anak adalah sistem yang sah dalam sistem mereka. Perkembangan bahasa anak bukanlah proses perkembangan sedikit demi sedikit struktur yang salah, bukan dari bahasa tahap pertama yang lebih banyak salahnya ke tahapan berikutnya. Bahasa anak pada setiap tahapan itu sistematik dalam arti anak secara terus-menerus membentuk hipotesis dengan dasar masukan yang diterimanya dan kemudian mengujinya dalam ujarannya sendiri dan pemahamannya. Selama bahasa anak itu berkembang, hipotesis itu terus direvisi, dibentuk lagi, atau kadang-kadang dipertahankan. Ardo, misalnya, secara konsisten ia mengucapkan bunyi [k, g] menjadi [t dan d]. Perhatikan ucapan kata-kata berikut ini oleh Ardo.

butan                               bukan
atu                                    aku
patu                                   paku
doyen                                goreng
dobok                                 goblok
dsb.       

Sebelum linguistik generatif menjadi terkenal, Jean Berko (1956) menunjukkan bahwa anak belajar bahasa bukan sebagai urutan yang terpisah-pisah, tetapi sebagai sistem yang integral. Dengan menggunakan tes kosakata yang tak bermakna, Berko menemukan bahwa anak yang berbicara bahasa Inggris sejak usia 4 tahun menerapkan kaidah pembentukan jamak, present progressive, past tense, tunggal ketiga dan posesif.
McNeill dan kawan-kawan menyajikan kajian yang cepat tentang hakikat pemerolehan bahasa anak secara sistematik. Dengan membuang jauh-jauh kendala behavioristik, peneliti bebas untuk membuat konstruk hipotetis tentang bahasa anak, meskipun tata bahasa semacam itu selalu berdasarkan pada data yang solid. Tata bahasa ini merupakan representasi formal dari struktur batin, struktur yang tidak terwujudkan secara nyata dalam ujaran. Ahli bahasa mulai meneliti bahasa anak dari bentuk awalnya yakni telegrafis pada bahasa yang kompleks dari anak berusia 5 sampai 10 tahun. Dengan meminjam istilah struktural dan paradigma behavioristik, mereka mendekati data dengan makna pendahuluan untuk sistem yang konsisten secara internal, sama seperti para linguis mendeskripsikan bahasa dari data lapangan. Penggunaan kerangka generatif merupakan kajian dari metodologi struktural.
Model generatif memungkinkan peneliti tahun 60-an mengambil langkah panjang untuk memahami proses pemerolehan dan pembelajaran bahasa . Tata bahasa awal anak-anak mengacu pada tata bahasa tumpu (pivot grammar). Berdasarkan observasi, hal itu menunjukkan bahwa ujaran anak satu dua kata mula-mula merupakan perwujudan dua kelas kata terpisah dan bukan hanya dua kata yang dilemparkan bersama secara acak. Kaidah pertama bagi tata bahasa generatif ialah:
Kalimat ------à kata tumpu  +  kata terbuka
Pendekatan nativisme kepada bahasa anak sekurang-kurangnya mempunyai dua sumbangan penting untuk memahami proses pemerolehan bahasa pertama, yakni:
a) bebas dari keterbatasan dari metode ilmiah untuk menjelajah sesuatu yang tidak tampak, tak dapat diobservasi, berada di bawah permukaan, tersembunyi, struktur kebahasaan yang abstrak yang dikembangkan oleh anak;
b) deskripsi bahasa anak sebagai sistem yang sah, taat kaidah, dan konsisten.
c) konstruksi sejumlah kekayaan potensial dari tata bahasa universal.

b. Kognitivisme  
Kerangka nativis pun masih mempunyai kelemahan-kelemahan. Akhir tahun 60-an merupakan saksi pergeseran kontinuum, tetapi bergerak lebih pada hakikat bahasa. Kaidah generatif yang diproposisikan oleh kelompok nativis itu nerupakan sesuatu yang abstrak, formal, eksplisit, dan logis, meskipun mereka berkaitan khususnya dengan bahasa dan buka tataran bahasa yang sangat dalam, pada tataran di mana ingatan, persepsi, pikiran, makna, dan emosi diorganisasikan secara berhubungan struktur super pikiran manusia. Ahli bahasa mulai melihat bahwa bahasa merupakan satu manifestasi dari perkembangan umum, satu aspek dari kemampuan kognitif dan afektif yang berkaitan dengan dunia dan dirinya sendiri. Para ahli bahasa mulai melihat bahwa kaum nativis sebenarnya gagal untuk menemukan hakikat makna yang sebenarnya. Kaidah yang diwujudkan dalam bentuk persamaan matematika pada hakikatnya gagal untuk menangkap sesuatu yang sangat penting dalam bahasa, yakni makna. Kaidah generatif yang dikembangkan oleh kaum nativis gagal untuk menangkap dan menjelaskan fungsi bahasa.
Lois Bloom (1971) menunjukkan kritiknya terhadap tata bahasa tumpu (pivot grammar). Ia menunjukkan bahwa hubungan kata dalam ujaran telegrafik itu hanya mirip dalam permukaannya saja. Ujaran sepatu ibu, misalnya, oleh kelompok nativis selalu dianalisis terdiri atas unsur tumpu ibu dan kata terbuka sepatu. Menurut Bloom kalimat semacam itu bisa saja mengandung tiga buah kemungkinan, yakni:
Ibu memakai sepatu;
Ibu melihat sepatu;
Sepatu ibu.
Dengan melihat data dalam teks, Bloom menyimpulkan bahwa yang mendasarinya ialah struktur dan bukan hanya urutan kata  dalam permukaan saja. Gejala yang tersembunyi  semacam itu tidak akan ditangkap dalam tata bahasa tumpu.
Penelitian Bloom dengan Jean Piaget, Slobin, dan lain-lain, merupakan penunjuk jalan bagi gelombang baru atas kajian bahasa anak. Kali ini penelitian itu terpumpun pada prasyarat kognitif dari perilaku berbahasa. Piaget mendeskripsikan perkembangan menyeluruh sebagai hasil interaksi komplementer antara kapasitas kognitif perseptual pengembangan anak dan dengan pengalaman kebahasaannya.
Slobin (1971) mengatakan bahwa dalam semua bahasa, belajar semantik bergantung pada perkembangan kognitif. Urutan perkembangan itu lebih ditentukan oleh kompleksitas semantik daripada kompleksitas struktural. Bloom (1976) menyatakan bahwa penjelasan perkembangan bahasa bergantung pada penjelasan kognitif yang terselubung. Apa yang diketahui anak akan menentukan kode yang dipelajarinya. Untuk memahami pesan  dan menyampaikannya.
Dengan demikian, peneliti bahasa anak mulai mengatasi formulasi kaidah fungsi bahasa. Pada saat yang sama, ahli bahasa teoretis mulai menyadari bahwa tata bahasa teoretis dalam gaya Chomsky, tata bahasa transformasional mulai muncul dalam bentuk semantik generatif dan tata bahasa kasus.

3. Teori Fungsional
Dengan munculnya konstruktivisme dalam dunia psikologi, dalam tahun-tahun terakhir ini menjadi lebih jelas bahwa fungsi bahasa berkembang dengan baik di bawah gagasan kognitif dan struktur ingatan. Penelitian bahasa anak-anak mulai memusatkan perhatiannya pada bagian linguistik yang paling rawan, yakni fungsi bahasa dalam wacana. Gelombang baru ini merupakan revolusi penelitian dalam pembelajaran dan pemerolehan bahasa. Jantung bahasa – fungsi komunikatif – diteliti sampai dengan segala variabiltasnya.
Para peneliti bahasa mulai melihat bahwa bahasa merupakan manifestasi kemampuan kognitif dan afektif untuk dapat menjelajah dunia, untuk berhubungan dengan orang lain, dan juga untuk keperluan terhadap diri sendiri sebagai manusia. Lebih lagi kaidah generatif yang diiusulkan di bawah naungan kerangka nativisme itu  bersifat abstrak, formal,  eksplisit, dan logis; meskipun sebenarnya kaidah itu lebih mengutamakan pada bentuk bahasa dan tidak pada tataran fungsional yang lebih dalam dari makna yang dibentuk dari interaksi sosial.

a. Kognisi dan Perkembangan Bahasa
Penelitian Bloom, Piaget, Dan Slobin dan lain-lain membawa angin segar bagi kajian bahasa anak. Penelitian itu berkaitan dengan hubungan antara perkembangan kognitif dengan pemerolehan bahasa pertama. Piaget menggambarkan semua perkembangan sebagai hasil interaksi anak dengan lingkungannya, dengan interaksi komplementer antara perkembangan kapasitas kognitif perseptual  dengan pengalaman bahasa mereka. Apa yang dipelajari oleh anak tentang bahasa diteentukan oleh apa yang mereka ketahui tentang dunia ini. Anak-anak mengancangi pembelajaran bahasa dengan dilengkapi dengan kemampuan interpretif konseptual untuk mengkategorisasikan dunia. 
Penjelasan tentang perkembangan bahasa anak bergantung pada penjelasan tentang faktor kognitif yang menjadi penyangga bahasa. Apa yang diketahui anak akan menentukan apa yang mereka pelajari tentang kode bahasa baik untuk berbicara maupun memahami pesan.  Oleh sebab itu para peneliti bahasa muali mengatasi kaidah fungsi bahasa dan hubungan antara bentuk bahasa itu dengan fungsi tersebut.
Slobin menyatakan bahwa dalam semua bahasa belajar makna bergantung pada perkembangan kognitif dan urutan perkembangannya lebih ditentukan oleh kompleksitas makna itu dariapda kompleksitas bentuknya.  Menurut dia ada dua yang menentukan model: (1) pada aras fungsional, perkembangan diikuti oleh perkembangan kapasitas komunikatif dan konseptual, yang beroperasi dalam konjungsi dengan skema batin kognisi; dan (2) pada aras formal, perkembangan diikuti  oleh kapasitas perseptual dan pemrosesan informasi, yang bekerja  dalam konjungsi dalam skema batin tata bahasa. 

b. Interaksi Sosial dan Perkembangan Bahasa
Akhir-akhir ini semakin jelaslah bahwa fungsi bahasa berkembang dengan baik di luar pikiran kognitif dan struktur memori. Di sini tampak bahwa konstruktivis sosial menekankan perspektif fungsional. Dalam model resiprokalnya tentang perkembangan bahasa, Holzman (1984) menyatakan bahwa sebuah sistem behavioral resiprokal bekerja di antara bahasa yang dikembangkan bayi-anak dan pengguna bahasa dewasa yang kompeten di alam peran socializing-teaching-nurturing. Beberapa penelitian mengkaji interaksi antara pemerolehan bahasa anak dan pembelajaran tentang bagaimana sistem itu bekerja di dalam perilaku manusia. Kajian yang lain tentang bahasa anak terpusat pada komunikasi interaksi bahasa, yang merupakan kawasan kajian yang rawan, yakni fungsi bahasa dalam wacana. Bahasa pada hakikatnya digunakan untuk komunikasi interaktif. Oleh sebab itu,   kajian yang cocok untuk itu adalah kajian tentang fungsi komunikatif bahasa: apa yang diketahui dan dipelajari anak  tentang berbicara dengan anak-anak yang lain? Tentang butir-butir wacana yang berhubungan (hubungan antara kalimat-kalimat; interaksi antara pendengar dan pembicara; isyarat percakapan. Dalam perspektif semacam itu, jantung bahasa, fungsi pragmatik dan komunikatif dikaji dengan segala variabilitasnya.
Teori-teori itu dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut ini.


4. Isu Penting dalam Pembelajaran Bahasa
a. Kompetensi dan Performansi
Telah berabad-abad para ilmuwan dan filsuf bekerja dengan membedakan antara
 kompetensi dan performansi. Kompetensi mengacu pada pengetahuan yang mendasari
 sistem, peristiwa, atau tindakan.  Kompetensi itu tidak dapat diobservasi. Performansi
 merupakan perwujudan atau realisasi kompetensi yang dapat diamati secara jelas. Kompetensi merupakan suatu perbuatan aktual seperti berjalan, menyanyi,
menari, berbicara. Dalam masyarakat teknologi perbedaan kompetensi dan performansi digunakan dalam semua sisi kehidupan, misalnya, diasumsikan anak-anak memiliki kompetensi tertentu dan bahwa kompetensi itu dapat diukur dan dinilai dengan teknik observasi dari sampel yang dipilih dengan apa yang disebut tes atau ujian.
Mengacu pada bahasa, kompetensi adalah pengetahuan yang mendasari sistem bahasa; ia merupakan kaidah tata bahasa, kosakata, semua butir bahasa dan bagaimana butir-butir itu dirangkai bersama-sama. Performansi adalah produksi aktual (berbicara, menulis) atau pemahaman (menyimak, membaca) terhadap peristiwa bahasa. Chomsky mempersamakan kompetensi dengan pembicara-pendengar yang direalisasikan yang tidak menunjukkan semacam variabel kinerja seperti keterbatasan memori, gangguan, pengalihan perhatian atau minat, kesalahan, fenomena keraguan, seperti pengulangan, salah memulai, jeda, penghilangan, dan penambahan. Inti gagasan Chomsky adalah bahwa sebuah teori bahasa seharusnya menjadi sebuah teori kompetensi supaya linguis jangan sia-sia mengkategorikan sejumlah tertentu variabel yang tidak reflektif terhadap  kemampuan bahasa pembicara atau pendengar.
Perbedaan itu merupakan isu penting dalam aliran linguistik yang berorientasi pada tata bahasa generatif dengan mereka yang berorientasi pada tata bahasa struktural yang berakar pada behaviorisme. Bagaimana kita menilai secara ilmiah tataran yang tersembunyi yang tidak dapat diobservasi, demikian kaum behavioris mempertanyakan.

b. Komprehensi dan Produksi
Komprehensi dan produksi dapat merupakan aspek performansi maupun kompetensi. Mitos yang tersebar selama ini dalam pembelajaran bahasa adalah anggapan bahwa komprehensi, yakni menyimak dan membaca, sama dengan kompetensi, dan produksi, yakni berbicara dan menulis sama dengan performansi. Perlu diketahui bahwa masalah bukanlah demikian itu. Produksi tentu saja dapat diamati secara lebih langsung, tetapi komprehensi juga merupakan performansi seperti halnya produksi (kalau kita pinjam istilah Ferdinand de Saussure adalah keinginan bertindak).
Dalam bahasa anak kebanyakan bukti observasi dan penelitian menunjukkan superioritas umum komprehensi terhadap produksi: anak-anak tampaknya memahami lebih banyak daripada yang dapat dituturkannya. Katakanlah, misalnya, anak kecil memahami tuturan orang dewasa goblok, gajah, dan sebagainya. Tetapi, kenyataannya anak itu belum dapat mengucapkan kata itu dengan baik. Anak akan mengucapkan sebagai [dobok, dadah]. Dalam penelitian Dardjowidjojo (2003), Echa menyebut gajah sebagai [dadah]. Dardjowidjojo menyebut fenomena itu fenomena [dadah]. Ketika Echa mengatakan [dadah],  Dardjowidjojo mengulanginya sebagai berikut.
D : Apa Cha? Dadah?
Echa : Butan.
D : Dadah, kan?
Echa : Butan, dadah.
D : La iya, dadah.
Echa : Butan, butan. Dadah, dadah.
D : O, gajah.
Echa : Iya, dadah.
Jelaslah bahwa anak-anak memahami lebih banyak daripada yang dapat dituturkannya. Echa baru dapat mengucapkan [dadah], namun dalam pemahamannya, ia sudah sampai pada penuturan tentang gajah. Tampaknya hal itu juga berlaku bagi orang dewasa. Orang dewasa pun banyak memahami kosakata, namun tidak semua kosakata itu mampu digunakannya dalam tuturan. Demikian juga, orang dewasa juga mampu memahami berbagai variasi kalimat, tetapi belum tentu ia mampu memproduksi berbagai ragam kalimat itu.

c. Dasar versus Ajar (nature versus nurture)
Kontroversi yang terus berkembang dalam pembelajaran bahasa adalah apakah bahasa itu merupakan hasil belajar ataukah sudah merupakan bawaan sejak anak itu lahir? Bahasa itu sudah merupakan dasar atau hasil ajar (nature atau nurture)? Kaum nativis yakin bahwa anak itu sejak lahir sudah diberi bakat bawaan yang disebut piranti pemerolehan bahasa (language acquisition device), atau tata bahasa universal (universal grammar). Hipotesis bakat bawaan ini mungkin merupakan pemecahan masalah atas kontradiksi yang berkembang dalam aliran behaviorisme yang menyatakan bahwa bahasa itu adalah seperangkat kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses kondisioning dan penguatan. Namun, harus diakui bahwa kondisoning semacam itu terlalu lamban dan tidak efisien, serta kurang dapat dipertanggungjawabkan untuk sebuah proses pemerolehan bahasa yang begitu kompleks. 
Hipotesis bakat bawaan menyajikan sejumlah masalah sendiri. Salah satu kesukaran adalah proposisi piranti pemerolehan bahasa hanya menunda isu utama hakikat kapasitas manusia untuk memperoleh bahasa. Dengan  hipotesis itu kita seharusnya memperoleh penjelasan tentang transmisi genetika kemampuan berbahasa tersebut, yang sampai sekarang ternyata tak ada kejelasannya. Sementara hipotesis piranti pemerolehan bahasa itu tetap merupakan hipotesis yang rasional, kita pendam saja rasa ketidakpuasan kita itu secara batin dan siapa tahu suatu saat nanti penjelasan genetika itu akan dapat disampaikan kepada kita.
Pepatah mengatakan, jangan taruh semua telur yang engkau miliki dalam satu keranjang. Mengapa? Jika keranjang Anda itu jatuh, maka habislah telur Anda. Faktor lingkungan sebenarnya tidak dapat diabaikan. Bertahun-tahun ahli psikologi dan pendidikan  terjebak pada jaring kontroversi dasar dan ajar itu. Bawaan memang diperlukan, tetapi hanya bakat atau bawaan saja tanpa ada faktor di luar itu, berkembangkah bakat itu? Katakan, anak mempunyai bakat bahasa. Baiklah, tetapi, coba asingkan anak itu, bawa ke hutan, lalu diasuh oleh serigala, atau oleh gorila, apa yang terjadi? Maka jadilah dia Mowgli, si manusia serigala; jadilah dia Tarzan, si manusia yang diasuh gorila. Mereka pada awalnya ketika ditemukan manusia sama sekali tak dapat berbicara. Mereka hanya berteriak-teriak laiknya gorila, dan melolong-lolong seperti serigala.  Sebaliknya, tanpa bakat dan hanya ajar saja mampukah manusia mencapai titik yang optimal? Katakanlah Anda atau saya sendiri. Meski saya diajari bermain bulu tangkis bertahun-tahun, mungkin saya tidak akan menjadi Rudy Hartono, menjadi Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Joko Supriyanto, Susi Susanti, Alan Budikusuma, atau Taufik Hidayat jago-jago bulu tangkis Indonesia yang membawa nama harum bangsa di mata dunia. Mungkin saya hanya sedikit pintar bermain bulu tangkis. Mengapa? Dalam diri saya tidak ada bakat untuk itu. Atau dapatkah setiap orang menjadi penyanyi kelas dunia seperi Michael Johnson? Dapatkah Anda dilatih menyanyi barang tiga tahun, atau lebih dan menjadi penyanyi tenar berkelas dunia? Untuk itu dibutuhkan bakat plus pelatihan yang intensif. Jadi, bakat penting, tetapi pembelajaran juga penting. Itulah yang dikenal dengan teori konvergensi dalam pembelajaran. Teori yang memadukan pandangan behavioris dan pandangan nativis.

d. Kesemestaan
Kontroversi lain yang mirip dengan kontroversi dasar—ajar adalah kesemestaan; pernyataan bahwa bahasa dipelajari dengan cara yang sama, dan lebih lagi, struktur batin bahasa, pada tatarannya yang paling dalam mungkin sama untuk semua bahasa. Linguis struktural sangat yakin bahwa bahasa itu dapat berbeda-beda satu dengan yang lain tanpa batas. Sebaliknya linguis generatif transformasi yang dipelopori oleh Chomsky sangat percaya bahwa ada kesemestaan bahasa, ada tata bahasa universal. Kalau tidak, bagaimana seorang anak dapat belajar bahasa apapun yang dipajankan kepadanya? Kenyataannya anak-anak di dunia ini belajar bahasa dengan cara yang hampir sama. Anak-anak memperoleh  /p/ dan /b/, kemudian /t/ dan /d/ baru kemudian memperoleh /k/ dan /g/. Urutan itu bersifat universal. Tidak ada anak memperoleh /k/ dan /g/ dulu baru yang lainnya. Demikian juga, misalnya, anak memperoleh vokal /a/ dulu baru kemudian /i/ dan /u/. Urutan semacam itu juga tidak bisa dibalikkan,misalnya, anak memperoleh /u/ dulu baru kemudian /i/ dan /a/. tidak demikian halnya. Begitu juga anak akan memproduksi kalimat satu kata dulu, baru dua kata, dan kemudian tiga kata. Kosakata yang dikuasai anak-anak selalu taat pada kaidah sekarang dan sini. Hal-hal yang lampau dan akan datang serta yang jauh tidak akan dikuasai lebih dulu. Itulah sebabnya, misalnya, anak kota akan menguasai kata televisi lebih dulu daripada sapi, atau kerbau. Sebaliknya, misalnya anak desa akan menguasai sapi dan kerbau lebih dulu daripada menguasai kosakata televisi.   

e. Sistematisitas dan Variabilitas
Asumsi yang muncul dalam pemerolehan bahasa anak adalah sistematisitas proses pemerolehan. Dari tata bahasa tumpu (atau tata bahasa pivot) sampai pada ujaran tiga atau empat kata, serta sampai pada kalimat lengkap yang hamper tak dapat ditentukan panjangnya, anak menunjukkan kemampuan yang luar biasa untuk menyusun kaidah  tentang sistem fonologi, struktur, leksikal, serta semantik  suatu bahasa. Bahasa anak pada setiap tahap perkembangannya memiliki kaidah khusus yang sistematis. Misalnya, pada tataran tertentu, anak itu baru mampu memperoduksi /t/ dan /d/; dan semua bunyi /k/ dan /g/ akan secara sistematis digantikan oleh bunyi /t/ dan /d/. Misalnya, kata bukan, bagus, enggak, akan diucapkan menjadi [butan, badus, endak].  
Proses belajar anak itu bervariasi. Penguasaan bunyi-bunyi bahasa mungkin urutannya dapat diramalkandan bersifat universal. Tetapi,kapan anak memperoleh, tepatnya waktunya kapan, dari anak ke anak sangat bervariasi.

f. Bahasa dan Pikiran
Bertahun-tahun para peneliti menggali hubungan antara bahasa dan kognisi. Menurut pandangan behavioristik, kognisi tak layak dibahas karena terlalu berbau mentalistik dan tidak dapat diamati secara langsung. Padahal, menurut Piaget (1972) perkembangan kognitif merupakan organisme manusia yang paling utama dan bahwa bahasa bergantung  pada dan bersemi karena perkembangan kognitif.
Peneliti yang lain menekankan pengaruh bahasa pada perkembangan kognitif. Vygotsky mengatakan bahwa interaksi sosial melalui bahasa merupakan prasyarat perkembangan kognitif. Pikiran dan bahasa dipandang sebagai dua operasi kognitif yang tumbuh bersama-sama. Lebih lagi, setiap anak mencapai perkembangan potensialnya melalui interaksi sosial dengan orang dewasa atau dengan teman sebayanya. Zona perkembangan proksimal (zone of proximal development) yang diperkenalkan oleh Vygotsky adalah jarak antara kapasitas kognitif aktual anak dengan tataran perkembangan potensialnya.
Salah satu tokoh yang melontarkan gagasan bahwa bahasa itu mempengaruhi pikiran adalah Benjamin Whorf yang bersama dengan Edward Sapir menghasilkan hipotesis Sapir-Whorf yang terkenal, yang juga dikenal sebagai relativitas bahasa. Hipotesis itu menyatakan bahwa setiap bahasa itu merefleksikan pandangan khusus penggunanya.
Isu yang penting di sini ialah bagaimanakah bahasa itu mempengaruhi pikiran dan bagaimanakah pikiran itu juga mempengaruhi bahasa. Yang jelas ialah bahwa bahasa itu adalah pandangan hidup kita, bahasa adalah fondasi keberadaan kita, dan berinteraksi secara simultan dengan pikiran dan perasaan. 

g. Imitasi (Peniruan)
Penelitian menunjukkan bahwa anak adalah peniru yang baik. Peniruan merupakan strategi yang penting yang digunakan anak dalam pemerolahan bahasa. Kesimpulan itu tidak akurat dalam tataran global. Memang, penelitian menunjukkan bahwa strategi peniruan merupakan strategi yang banyak digunakan pada awal perkembangan bahasa anak.

4. Rangkuman
Dalam pembelajaran bahasa terdapat beberapa teori yang sangat berbeda pendapatnya. Kelompok pertama, yakni yang berorientasi pada psikologi behaviorisme,  yang kedua adalah pendekatan generatif yang berakar pada teori psikologi nativisme dan teori psikologi kognitivisme, sedangkan yang ketiga ialah pendekatan fungsional yang berakar pada psikologi konstruktivisme. Ketiga teori itu ternyata mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam dunia ilmu bahasa. 
Kaum behavioris yakin bahwa belajar bahasa pada hakikatnya adalah masalah pembiasaan dan pembentukan kebiasaan. Dengan pola pikir bahwa dalam proses pembelajaran yang penting ialah stimulus dan respons dan adanya penguatan. Oleh sebab itu, dalam dunia pembelajaran bahasa teori itu melahirkan pendekatan audiolingual yang banyak memberikan penubian. Mereka yakin jika belajar bahasa itu dilakukan dengan penubian, maka kompetensi berbahasa itu akan dapat diperoleh.
Kaum behavioris pada hakikatnya menafikan hadirnya hal-hal yang berbau mentalistik. Hal itulah yang kemudian banyak ditentang. Manusia bukanlah botol kosong yang dapat diisi semau-mau kita. Manusia  adalah organisme yang mempunyai potensi-potensi. Kaum nativis yakin bahwa anak sejak lahir telah dikaruniai piranti pemerolehan bahasa (language acquisition device) yang menurut McNeil berupa:
a) kemampuan membedakan bunyi ujaran dengan bunyi yang lain dalam
    lingkungannya; 
b) kemampuan mengorganisasikan peristiwa bahasa  ke dalam variasi yang
    beragam;
c) pengetahuan adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sistem yang lain
    yang tidak mungkin;
d) kemampuan untuk tetap mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang
    membentuk sistem yang mungkin dengan cara yang paling sederhana dari data
    kebahasaan yang diperoleh. 
Pendekatan nativisme kepada bahasa anak sekurang-kurangnya mempunyai dua sumbangan penting untuk memahami proses pemerolehan bahasa pertama, yakni:
d) bebas dari keterbatasan dari metode ilmiah untuk menjelajah sesuatu yang tidak tampak, tak dapat diobservasi, berada di bawah permukaan, tersembunyi, struktur kebahasaan yang abstrak yang dikembangkan oleh anak;
e) deskripsi bahasa anak sebagai sistem yang sah, taat kaidah, dan konsisten.
f) konstruksi sejumlah kekayaan potensial dari tata bahasa universal.
Dengan munculnya konstruktivisme, terjadilah pergeseran, meskipun tidak terlalu menjauh dari nativisme atau kognitivisme. Pergeseran ke arah yang lebih dalam tentang hakikat bahasa. Penekanan muncul pada (a) pandangan bahwa bahasa merupakan perwujudan kemampuan kognitif dan afektif, untuk menyiasati dunia, untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan juga untuk diri sendiri; (b) kajian tentang fungsi bahasa menjadi pumpunan para penganut fungsional.
Ada beberapa isu penting yang berhubungan dengan pembelajaran bahasa, yakni sebagai berikut.
kompetensi dan performansi;
komprehensi (pemahaman) dan produksi;
ajar versus dasar;
tata bahasa universal;
sistematisitas dan variabilitas;
bahasa dan pikiran;
peniruan (imitasi);
masukan, dan;
wacana.

5. Pelatihan
Diskusikan dengan teman-teman Anda, mengapa pendapat kaum behavioristik masih berterima ketika dihubungkan dengan pemerolehan ujaran anak pada tahap awal, tetapi tidak dapat diterima teorinya pada pemerolehan ujaran pada tataran kalimat dan wacana? Apakah pendekatan nativistik dan fungsional dapat diterima teorinya pada tataran pemerolehan ujaran yang lebih kompleks? Mengapa demikian?
Cobalah bersama teman Anda mengobservasituturan anak kecil yang kira-kira berumur tiga tahun dan rekamlah dengan menggunakan tape recorder. Transkripsikan, kemudian coba tentukan beberapa kaidah kebahasaan yang digunakan anak tersebut. Sajikan hasil observasi Anda kepada teman-teman Anda! 
Coba Anda cermati sekali lagi tentang konsep tata bahasa universal. Apakah  bedanya dengan konsep piranti pemerolehan bahasa (language acquisition device) yang dikembangkan oleh kaum nativis?
Kompetensi dan performansi sukar untuk didefinisikan. Dalam hal apa mereka saling bergantung? Bagaimana kompetensi itu meningkat? Dapatkah kompetensi itu menurun? Coba ilustrasikan dengan contoh pembelajaran keterampilan tertentu yang nonbahasa, seperti belajar keterampilan musik atau keterampilan atletik.
Sebutkan beberapa bentuk bahasa dan beberapa fungsi bahasa. Berdasarkan pengalaman Anda mempelajari bahasa kedua atau bahasa asing, apakah Anda mendapatkan kesulitan dengan fungsi bahasa tersebut? 

Download file word untuk artikel ini di sini


Sumber:

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung pornografi.
Anda bisa berkomentar dengan menggunakan pilihan: Nama/URL. Kolom URL bisa dikosongkan.