Gunung Gede

Buon Natale e anno nuovo 2013

Vrolijke Kerstmis en nieuwe jaar 2013

Judul Slide

Frohe Weihnachten und neues Jahr 2013

Memuat...

Rabu, 14 September 2011

Home » » Materi Kalimat Efektif dan Latihan

Materi Kalimat Efektif dan Latihan

MATERI KALIMAT EFEKTIF

1. Pengertian
Kalimat atau bentuk kalimat yang dengan sadar atau sengaja disusun untuk mencapai daya informasi yang tepat dan baik; yang susunan kalimatnya didukung oleh kesepadanan, kepararelan, ketegasan, kehematan, dan kevariasina (Farera, 1991: 42)
Kalimat Efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis (Arifin dan Tassai, 1991: 111)

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula (Depdiknas, 2000: 81)
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki syarat-syarat:
a.    Secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis.
b.   Sanggup penimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau     pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis (Keraf, 1991: 36).

2. Ciri-ciri Kalimat Efektif
1. Kesepadanan
            Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang   dipakai.
Kesepadanan kalimat memiliki cirri:
  1. Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat yang jelas.
Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindari pemakaian kata depan di, dalam, bagi, untuk, pada, dan sebagainya di depan subjek.
Contoh:
(1) Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (salah)
                            Ket.                                                 P                             O

Pemakaian kata bagi di awal kalimat tidak tepat. Hal itu menyebabkan kalimat di atas tidak memiliki subjek (S). Kalimat itu seharusnya:   
       
Semua mahasiswa perguruan tinngi ini harus membayar uang kuliah. (benar)
                             S                                          P                       O
(2) Kepada hadirin yang masih ada di luar harap memasuki ruangan sebelah kanan.
                            Ket.                                                P                         O
Seperti halnya kalimat pertama, pemakaian kata kepada pada awal kalimat tidak tepat.
Penulisan kalimat itu seharusnya:
Hadirin yang masih ada di luar harap memasuki ruangan sebelah kanan.
                            S                                P                              O  

b. Tidak mempunyai subjek yang ganda
Contoh:
(1) Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh teman saya.
                      S                      S         P                     O
Seharusnya

(1)    Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh teman saya
                         Ket                         S         P                    O

Bagaimana dengan kalimat berikut:

a. Akibat banjir semalam membobolkan tanggul yang panjangnya 200 meter itu.
b. Menurut wartawan kamii di Baghdad mengabarkan bahwa Saddam Husen masih hidup sampai saat ini.
c. Di sepanjang jalan Pajajaran bermandikan cahaya lampu hias.
d. Berdasarkan hasil rapat itu menjelaskan bahwa teroris merupakan musuh bersama.

a. …………………………………………………………………………………………….
b. …………………………………………………………………………………………….
c. ……………………………………………………………………………………………
d. …………………………………………………………………………………………….

c. Kata penghubung sehingga tidak dipakai pada kalimat tunggal
(1) Dia tidak pernah memperhatikan diriku. Sehingga aku lari dari pangkuannya.
(2) Kami datang agak terlambat. Sehinnga kami tidak dapat mengikuti perkuliahan itu.
Seharusnya
(1) Dia tidak pernah memperhatikan diriku sehingga aku lari dari pangkuannya.
(2) Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikui perkuliahan itu.

d. Predikat kalimat tidak didahuli oleh kata yang
 Contoh:
Rumah saya yang terletak di depan gelanggang olahraga.
       S                       P                         Ket.

Kalimat itu seharusnya ditulis:
Rumah saya terletak di depan gelanggang olahraga
      S                 P                         Ket.

2. Kepararelan/kesejajaran
Kepararelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam  suatu kalimat. Artinya bila bentuk pertama menggunakan nomina (kata benda), bentuk kedua dan seterusnya harus pula menggunakan nomina. Begitu pula bila bentuk pertama verba (kata kerja), bentuk kedua dan seterusnya pun harus berbentuk verba.

Contoh:
(1) Harga minyak minyak tanah dibekukan atau naik secara luwes.
(2) Cara pengobatan dan  menyembuhkan penyakit itu belum ditemukan sampai saat ini.
Kalimat yang benar
(1) Harga minyak tanah dibekukan atau dinaikkan secara luwes.
                                        di------kan         di------kan

(2) Cara pengobatan dan penyembuhan penyakit itu belum ditemukan sampai saat ini.
             pe---------an         pe-----------an

Bagaimana dengan kalimat berikut:
a.    Perasaan ingin mengasihi dan sayang selalu melekat pada hati gadis lugu itu.
b.   Pusat pendidikan dan latihan itu tiba-tiba menjadi momok yang menakutkan.
c.   Agar peristiwa itu tidak terulang lagi, pemerintah harus memikirkan cara pencegaha dan menanggulangi bencana banjir yang selalui menghantui masyarakat.
d.   Kita harus menghargai persamaan dan beda pendapat di antara kita.
Penulisan yang benar:
a. ……………………………………………………………………………………………
b. ……………………………………………………………………………………………
c. ……………………………………………………………………………………………
d. ……………………………………………………………………………………………

3. Ketegasan/penekanan
Yang dimaksud dengan ketegsan adalah perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Ada beberapa cara untuk membentuk penekanan ide pokok dalam kalimat:

a. Meletakkan ide pokok yang ditonjolkan itu di depan/di awal kalimat:
Contoh:
(1) Harapan presiden agar masyarakat Indonesia membaca satu jam dalam sehari.
Penekanannya pada harapan presiden.
(1)    Pemuda itu diminta menikahi gadis malang itu sekarang juga.
Penekanannya pada pemuda itu.

b. Membuat urutan kata yang logis.
Contoh:
(1) Bukan seribu, sejuta, atau seratus, melainkan berjuta-juta rupiah ia membantu anak yatim dan anak telantar.
(2) Jangankan berdua atau sendiri,  bertiga pun dia tidak pernah berani menghadapi orang
itu.
Penulisan yang benar:
(1) Bukan seratus, seribu,atau sejuta, melainkan berjuta-juta rupiah ia membantu anak yatim dan anak telantar.
(2) Jangankan sendiri atau berdua, bertiga pun dia tidak pernah berani menghadapi orang itu. 


c. Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
(1) Saya suka akan kecantikannya. Saya suka akan keramahannya.
(2) Gadis itu sangat sopan dan santun terhadap lelaki. Gadis itu tidak pernah mengecewakan lelaki mana pun.
Kalimat kedua merupakan kalimat penegasan.

d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
(1) Mahasiswa itu tidak malas dan sombong, tetapi rajin  dan baik sekali.
(2) Orang itu bukan pencuri, melainkan polisi.
e. Mempergunakan partikel  –lah sebagai penekanan atau penegasan.
Contoh:
(1) Saudaralah yang bertanggung jawab dalam peristiwa itu.
(2)  Andalah yang menjalankan tugas ini.

4. Kehematan
Yang dimaksud dengan kehematan di sini adalah hemat dalam menggunakan kata, frase, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Kriteria yang harus diperhatikan adalah:

a.       Penghematan dapat dilakukan dengan menghilangkan subjek.
Contoh:
Karena dia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
Kalimat di atas dapat ditulis:
Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
b.       Menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponim kata.
Contoh:
Ia memakai baju warna merah.
Pemakaian kata warna tidak perlu lagi karena merah merupakan warna.

c.       Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat
Contoh:
Kata naik bersinonim dengan ke atas.
Kata turun bersinonim dengan ke bawah

Bagaimana dengan kalimat berikut:
(1)   Orang itu selamat dari bencana banjir bandang karena naik ke atas pohon.
(2)   Setelah serigala itu lelah, petani itu turun ke bawah dan berlari ke rumahnya.
Penulisan yang benar:
(1) ............................................................................................................................
(2) ............................................................................................................................

d. Tidak menjamakkan kata-kata yang sudah bermakna jamak.
Perhatikan kalimat berikut:
(1)   Banyak para koruptor yang belum terjamah oleh hukum.
(2)   Para ibu-ibu di tempat kami selalu salat berjamaah di masjid.
(3)   Banyak rumah-rumah yang tergenang oleh air akibat tanggul itu jebol.
Pada kalimat (1) pemakaian kata para tidak tepat karena para artinya banyak. Kalimat yang benar:
Banyak koruptor yang belum terjamah oleh hukum.
Demikian juga pemakaian kata para pada kalimat (2) yang artinya sama dengan banyak. Bentuk ibu-ibu maknanya juga banyak. Oleh karena itu, pada kalimat (2) kita bisa memilih salah satunya; para atau ibu-ibu. Jadi, penulisan yang benar seperti pada contoh a dan b berikut:
a. Para ibu di tempat kami selalu salat berjamaah di masjid
b. Ibu-ibu di tempat kami selalu salat berjamaah di masjid.
Kalimat (3) pun memiliki kesalahan yang sama seperti kalimat (1) dan (2). Pada kalimat (3) pemakaian kata rumah tidak perlu diulang karena rumah-rumah sudah bermakna jamak (banyak rumah). Oleh karena itu, penulisan yang benar adalah:
Banyak rumah yang tergenang oleh air akibat tanggul itu jebol.

5. Kecermatan
Yang dimaksud dengan kecermatan dalam kalimat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda atau ambiguitas (multi interpretasi).
Perhatikan kalimat berikut:
 Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu memperoleh penghargaan dari menteri.

Kalimat di atas sepertinya tidak memiliki kesalahan, tetapi cobalah cermati maknanya. Bila kita perhatikan,  akan muncul pertanyaan, ‘siapa yang terkenal,’ mahasiswa atau pergurunan tinggi?
Kalimat (1) di atas masih belum efektif karena masih memiliki makna yang ganda. Agar kalimat (1) menjadi benar, penulisannya seperti berukut:
a. Mahasiswa yang  terkenal di perguruan tinggi itu memperoleh penghargaan dari menteri. ( yang terkenal mahsiswa).
b. Mahasiswa di perguruan tinggi yang terkenal itu memperoleh penghargaan dari  menteri. (yang terkenal perguruan tingginya).
c. Mahasiswa perguruan tinggi—yang terkenal itu memperoleh hadiah dari menteri.
   (yang terkenal perguruan tinngi).
Contoh lain:
Tahun ini SPP mahasiswa baru dinaikkan.
Kata baru di atas menerangkan kata mahasiswa atau kata dinaikkan?
a)  Jika menerangkan mahasiswa, tanda hubung dapat digunakan untuk menghindari salah tafsir.
      Tahun ini SPP mahasiswa-baru dinaikkan.
b)  Jika kata baru menerangkan kata dinaikkan, kalimat itu dapat diubah menjadi:
      SPP mahasiswa tahun ini baru dinaikkan.


Bagaimana dengan kalimat berikut:
(1) Isteri lurah yang baru itu meninggal dunia.
(2) Rumah artis yang mahal itu akan dijual.
(3) Mobil Pak Camat yang baru itu ada di bengkel.
(4) Mereka mengambil botol bir dari dapur yang menurut pemeriksaan laboratorium baerisi cairan racun. (Botol bir atau dapur yang berisi cairan racun?)

Coba Anda perbaiki!
(1) ……………………………………………………………………………………………
      ……………………………………………………………………………………………
(2) ……………………………………………………………………………………………
      ……………………………………………………………………………………………
(3) ……………………………………………………………………………………………
      ……………………………………………………………………………………………
(4)………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
      …………………………………………………………………………………………..

6. Kepaduan
Yang dimaksud kepaduan adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah.

Contoh:
(1) Surat itu saya sudah baca.
(2) Saran yang disampaikannya kami akan pertimbangkan.
Agar kalimat itu padu, susunannya seperti berikut:
(1) Surat itu sudah saya  abaca.
(2) Saran yang disampaikannya akan kami pertimbangkan.

Bagaimana dengan kalimat berikut:
(3) Seandainya dia tidak mengaku, saya akan tanyakan hal itu pada orang tuanya.
(4) Kalau ia memintanya, saya akan berikan uang itu.
(5) Apakah Bapak akan kabulkan permintaan saya ini?
(6) Saudara saya akan nikahkan dengan putri saya.
Sekarang coba Anda perbaiki!
(3) …………………………………………………………………………………………..
(4) …………………………………………………………………………………………..
(5) …………………………………………………………………………………………..
(6) …………………………………………………………………………………………..

7. Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan adalah ide kalimat dapat diterima oleh akal sehat dan sesuai dengan ejaan yang berlaku.

Anda merasa tertantang untuk menguji kemampuan Anda dalam pemakaian kalimat efektif?

Inilah tantangan untuk Anda.

Cermati dan perbaiki kesalahan kalimat berikut:
1.    Dari peristiwa itu perlu mendapat perhatian dari berbagai fihak, sehingga pada masa datang tidak seorangpun menuntut ganti rugi.
2.   Tujuan penyusunan buku pelajaran itu adalah membantu masyarakat, khususnya yang berada di pedesaan. Sehingga karenanya mendapat kesempatan membaca menulis.
3.   Dalam upacara pembukaan seminar itu, yang pertama kali diadakan di kota Bogor dihadiri para pejabat-pejabat negaradan tokoh-tokoh masyarakat.
4.   Pertanyaan saya yang ketiga kalinya, disebabkan karena kebimbangan saya terhadap pemakaian kata nalar. 
5.   Indikator pemahaman materi keterampilan yaitu mampu melakukan tugas dan latihan yang diberikan oleh penyaji.
6.   Jumlah dokter amat terbatas dibanding jumlah penduduk, tidak semua warga masyarakat termasuk di desa mendapat pelayanan medis.
1.   …………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………
2.   …………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………
3.   …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………
4.   ………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………
5.   …………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………
6.   …………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung pornografi.
Anda bisa berkomentar dengan menggunakan pilihan: Nama/URL. Kolom URL bisa dikosongkan.