Gunung Gede

Buon Natale e anno nuovo 2013

Vrolijke Kerstmis en nieuwe jaar 2013

Judul Slide

Frohe Weihnachten und neues Jahr 2013

Memuat...

Minggu, 31 Juli 2011

Home » » Tujuh Modal untuk Menulis

Tujuh Modal untuk Menulis

Tujuh Modal untuk Menulis
           
  Pranoto (2004:9-22) mengungkapkan ada beberapa yang penting yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Seorang penulis harus memiliki bekal sebagai modal agar tulisan yang dibuat dapat menarik perhatian para pembaca. Ini bukan berarti saya pandai dalam menulis, tetapi kita dapat bersama-sama belajar dari para penulis handal yang salah satu tulisannya saya kutip pada posting-an saya ini. Tujuh modal tersebut yaitu:

1)   Penguasaan bahasa dan cara menulisnya.
         Bahasa adalah segala-galanya. Dalam kegiatan menulis, fungsi bahasa paling menentukan. Menulis tidak sekedar menggoreskan huruf, tetapi menulis berarti menulis bahasa, tidak mungkin kita menulis di luar bahasa. Tidak ada tulisan jika tidak ada bahasa. Dengan kata lain, menulis berarti menciptakan seni bahasa.

2)   Kaya kosa kata.
Untuk memperoleh kata-kata yang mudah dipahami, kita dituntut memiliki kosa kata yang memadai. Dari sana kita akan mampu mengungkapkan hal-hal yang ingin kita ungkapkan secara ekspresif dan efektif.

3)   Memiliki akar dan wawasan.
          Untuk bisa menulis karya yang berbobot, seorang pengarang dituntut untuk memiliki akar dan wawasan mengenai materi yang ditulisnya atau yang dijadikan objek tulisannya. Kedua hal itu dapat diperoleh dari: observasi, survey, membaca buku-buku sastra atau ikut menjalani kehidupan bersama objeknya.

4)   Kepekaan terhadap lingkungan.
            Karya-karya kreatif berupa cerita pendek dan novel menceritakan tentang manusia (Kundera dalam Pranoto, 2004:16). Dari pendapat Kundera dapat disimpulkan bahwa bila kita hendak menulis cerita pendek atau novel, diperlukan pembekalan pengetahuan tentang manusia dan alam sekitarnya.

5)   Memompa dan mengolah daya imajinasi.
            Ada yang beranggapan bahwa imajinasi itu merupakan anugerah atau bakat. Hal itu bukan merupakan faktor utama lahirnya karya, itu hanya pemicu, minat serta kemauan yang kuat dan sikap disiplin untuk menulislah yang dapat mendorong untuk dapat membuat sebuah karya sastra.

6)   Konsentrasi.
     Pekerjaan menulis untuk menghasilkan cerita pendek atau novel yang berbobot tidaklah sekedar menggoreskan pena di atas kertas, melainkan memerlukan konsentrasi yang serius agar dapat menciptakan karya yang bermakna bagi pembacanya dan mampu membangun estetika melalui rangkaian bahasa yang menjadi medianya.

7)   Disiplin.
        Untuk menjadi seorang penulis cerpen sejati, dituntut menjalani titian yang tidak boleh dilanggar, yaitu sikap disiplin, disiplin dalam melakukan pekerjaannya (menulis). Yang membuat seseorang tidak disiplin biasanya dikarenakan adanya faktor-faktor yang ditimbulkan oleh diri sendiri, yaitu sikap malas dan tidak mampu mengelola waktu.
          Pernyataan di atas menggambarkan bahwa untuk menjadi penulis, kita harus memiliki bekal yang harus dijadikan sebagai modal awal agar kita menjadi penulis yang berkualitas. Karena menulis tidak sekedar menggoreskan huruf, tetapi menciptakan seni bahasa. Menulis menuntut kita agar menjadi orang yang disiplin dalam artian kita harus pintar dalam mengelola emosi dalam diri sehingga tidak muncul rasa lamas.

Sumber: Pranoto, Naning. 2004. Creative Writing: 72 Jurus Seni Mengarang. Jakarta: PT. Gramedia.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung pornografi.
Anda bisa berkomentar dengan menggunakan pilihan: Nama/URL. Kolom URL bisa dikosongkan.