Gunung Gede

Buon Natale e anno nuovo 2013

Vrolijke Kerstmis en nieuwe jaar 2013

Judul Slide

Frohe Weihnachten und neues Jahr 2013

Memuat...

Sabtu, 30 Juli 2011

Home » » Hubungan Minat Baca Sastra dengan Kemampuan Menulis Cerpen

Hubungan Minat Baca Sastra dengan Kemampuan Menulis Cerpen

Seperti yang kita ketahui bahwa karya ilmiah, baik yang berupa skripsi, thesis, jurnal, penelitian, dan lainnya kini hanya menumpuk di perpustakaan dan dalam rak-rak buku kampus. Banyak juga karya ilmiah dari hasil mahasiswa yang sudah lulus menjadi tidak berguna karena hanya disimpan sebagai "kenang-kenangan". Padahal kalau karya tersebut terpublikasikan, besar peluangnya untuk menjadi sumber inspirasi dan media pengembangan bagi masyarakat yang haus dan peduli terhadap ilmu pengetahuan.


Hadirnya posting-an saya ini diharapkan dapat membantu teman-teman dalam menyusun karya ilmiah. Walaupun saya sadar terjadinya pro kontra tentang hal seperti ini karena berkaitan dengan karya akademik. Hal ini dikhawatirkan terjadinya plagiat. Plagiat adalah pendapat karya atau hasil penelitian orang lain yang diakui sebagai pendapat, karya, atau hasil penelitian sendiri. Bentuk-bentuk yang dikategorikan kegiatan plagiat adalah:
1. Mengutip pendapat orang lain tanpa menyebut sumbernya.
2. Menjiplak seluruhnya atau sebagian hasil karya orang lain, seperti makalah, skripsi, tesis, disertasi.




Ingat! Ini hanya sebagai referensi, bukan untuk plagiat.



Judul: Hubungan Minat Baca Sastra dengan Kemampuan Menulis Cerpen (Oryza B., PBS Indonesia, FKIP Unpak, Bogor, 2010)

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Bahasa tidak hanya berbentuk lisan, melainkan juga tulisan. Dengan adanya bahasa, manusia dapat menyampaikan apa yang sedang dipikirkannya. Dengan demikian manusia dapat berkomunikasi dengan manusia lainnya sehingga dapat mengerti apa yang dimaksudkan.
Sementara itu apabila kita berbicara tentang bahasa atau keterampilan berbahasa, berarti kita akan membicarakan hal-hal yang terdapat dalam aspek keterampilan berbahasa. Aspek keterampilan berbahasa itu sendiri yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis.
            Keterampilan berbahasa yang sangat kurang diminati baik itu oleh masyarakat umum atau pun peserta didik yaitu keterampilan membaca. Pernyataan yang sama pula diungkapkan oleh Dwi Sunar Prasetyono dalam bukunya yang berjudul Rahasia Mengajarkan Gemar Membaca Pada Anak Usia Dini, ia mengatakan bahwa rendahnya minat baca dalam masyarakat, berkaitan dengan kemampuan berbahasa yang meliputi aspek mendengarkan, membaca menulis, berbicara, dan tingkat pemahaman. Dengan kemampuan membaca yang rendah, tidak tertutup kemungkinan bahwa minat baca yang dimiliki pun rendah (Prasetyono, 2008:26).
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis (Hudgson dalam Tarigan, 1984:7).
Kurangnya minat membaca siswa terhadap bacaan terutama bacaan berupa sastra sangat berpengaruh terhadap kurangnya kemampuan siswa dalam menuangkan ide imajinatifnya melalui tulisan, akibatnya siswa cenderung sulit untuk menyusun sebuah karya tulis sastra. Agar siswa tidak mengalami kesulitan tersebut, siswa harus banyak membaca bahan bacaan berupa sastra.
Dengan banyaknya membaca bacaan sastra serta tingginya minat baca sastra siswa, maka siswa tidak akan mengalami kesulitan dalam menyusun sebuah karya sastra bentuk prosa. Oleh karena itu, guru dituntut untuk meningkatkan minat baca para siswanya agar mereka lebih banyak membaca. Dengan demikian, kemampuan serta kemauan membaca mereka pun akan meningkat.
Hal yang perlu diusahakan untuk meningkatkan minat baca adalah menyediakan waktu untuk membaca dan memilih bahan bacaan yang baik (Tarigan, 1984:102). Bahan bacaan tersebut bisa berupa bacaan karya sastra bentuk prosa, puisi atau pun bahan bacaan nonsastra. Salah satu karya sastra bentuk prosa yaitu cerpen. Cerpen adalah karangan fiksi yang pendek, selesai dibaca hanya dengan sekali duduk, mengarah kepada kesan tunggal, karena pendek, serta tuntas pada bagian akhir. Cerpen merupakan salah satu pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Pertama. Dengan adanya pembelajaran menulis cerpen, siswa dapat mengembangkan kreativitasnya.
            Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang produktif dan merupakan proses komunikasi secara tertulis. Selain itu, menulis bertujuan untuk menyampaikan informasi, menggugah perasaan, dan gabungan antara keduanya.
Menulis cerpen termasuk bagian dari menuangkan pengalaman mereka ke dalam kertas, karena tidak semua siswa dapat menceritakan dengan jelas untuk dapat mengungkapkan ide, perasaan, dan pengalamannya secara lisan. Dengan demikian siswa dapat membiasakan diri untuk menulis cerpen.
Antara minat baca sastra dengan kemampuan menulis cerpen terdapat suatu keterkaitan, keterkaitan tersebut dapat digambarkan jika seorang siswa mempunyai minat baca yang tinggi, terutama minat terhadap bacaan sastra, maka siswa tersebut dapat membuat sebuah karya sastra berupa cerpen tanpa mengalami hambatan, karena dia memiliki banyak perbendaharaan kata dan memiliki ide-ide kreatif serta imajimatif yang dapat mereka tuangkan. Sebagai keterampilan berbahasa, membaca merupakan suatu aktifitas yang sangat erat sekali hubungannya dengan keterampilan menulis.
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis (Tarigan, 1984:7). Menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan grafik itu (Tarigan, 2008:22).
Kedua pengertian tersebut tentu saja saling berhubungan. Pengertian membaca berhubungan dengan bahasa tulisan dan dianggap sebagai suatu proses untuk menghubungkan pesan, baik yang tersirat maupun tersurat. Pengertian menulis berhubungan pula dengan orang atau pembaca yang akan menerima bacaan atau pesan yang kita buat. Oleh sebab itu, membaca dan menulis merupakan suatu keterampilan yang sangat erat sekali hubungannya.
            Berdasarkan latar belakang di atas, penulis ingin meneliti tentang hubungan minat baca sastra dengan kemampuan menulis cerpen.

B.  Identifikasi Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi masalah yang berkaitan langsung dengan kemampuan menulis cerpen adalah:
1)      Apakah motivasi baca sastra siswa berpengaruh terhadap kemampuan menulis cerpen siswa?
2)  Apakah metode pembelajaran menulis cerpen yang digunakan oleh guru berpengaruh terhadap kemampuan menulis cerpen siswa?
3)      Apakah intensitas latihan menulis cerpen berpengaruh terhadap kemampuan menulis cerpen siswa?
4)      Apakah minat baca sastra siswa berpengaruh terhadap kemampuan menulis cerpen siswa?




C.  Pembatasan Masalah
            Berdasarkan identifikasi masalah  di atas, ada beberapa yang berpengaruh terhadap keterampilan menulis  cerpen siswa, antara lain yaitu motivasi baca sastra, metode pembelajaran menulis cerpen, intensitas latihan menulis cerpen, dan minat baca sastra. Dalam penelitian ini, penulis membatasi masalah pada pengaruh minat baca sastra terhadap kemampuan menulis cerpen. Unit analisis penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 6 Bogor.

D.  Perumusan Masalah
            Berdasarkan batasan masalah di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan antara minat baca sastra dengan kemampuan menulis cerpen siswa kelas IX SMP Negeri 6 Bogor?

E.  Tujuan Penelitian
            Berdasarkan masalah yang telah disebutkan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1)   Memperoleh gambaran tentang minat baca siswa terhadap karya sastra.
2)   Mengetahui gambaran tentang kemampuan menulis cerpen.
3)   Mengetahui hubungan antara minat baca sastra dengan kemampuan menulis cerpen.




F.  Kegunaan Penelitian
            Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1)   Bagi peneliti, dapat mengetahui sejauh mana minat baca siswa terhadap karya sastra dan mengetahui kemampuan menulis cerpen.
2)   Bagi siswa, dapat melatih kreativitas serta mampu menuangkan ide yang ditulis dalam bentuk cerpen.
3) Bagi guru bahasa Indonesia, memberikan masukan kepada setiap guru bahasa Indonesia tentang pentingnya menanam dan menumbuhkan minat baca sastra siswa, sehingga akan mempengaruhi siswa dalam belajar yang akhirnya akan meningkatkan kemampuannya dalam pelajaran menulis cerpen.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung pornografi.
Anda bisa berkomentar dengan menggunakan pilihan: Nama/URL. Kolom URL bisa dikosongkan.