Gunung Gede

Buon Natale e anno nuovo 2013

Vrolijke Kerstmis en nieuwe jaar 2013

Judul Slide

Frohe Weihnachten und neues Jahr 2013

Memuat...

Senin, 10 November 2014

Urgensi Metodologi Pengajaran dalam Pengembangan Potensi Anak Didik Pada SMP



BAB  IV
HASIL PENELITIAN
A.Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Latar Belakang Berdirinya
SMP Negeri 2 Bontoramba   merupakan  salah  satu  lembaga  Pendidikan  Menengah Pertama di  lingkungan  Departemen  Pendidikan   Nasional  yang  berkedudukan  di Desa  Maero Kecamatan Bontoramba Kabupaten Jeneponto. SMP Negeri 2 Bontoramba  diadakan  atas  dasar  Tujuan  dan  cita-cita   Nasional.  Untuk  itu  perlu  juga   mendapat  perhatian  yang  sama  dengan   lembaga  pendidikan  lainnya  dengan  memberikan  pembinaan, bantuan,  bimbingan  yang  positif   agar  dapat  melaksanakan    tugas  dan  fungsinya  dengan  sebaik-baiknya   sesuai  dengan  ketentuan  yang  berlaku  sehingga  tujuan  Pendidikan  Nasional  dapat  tercapai.
 UNDUH

Selasa, 04 November 2014

makalah pergaulan bebas di kalangan remaja



BAB I
 PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG

Dewasa ini, kejadian pergaulan bebas yang terjadi di kalangan remaja banyak berasal dari eksploitasi seksual pada media yang ada di sekeliling kita. Eksploitasi seksual dalam video klip, majalah, televisi dan film-film ternyata mendorong para remaja untuk melakukan aktivitas seks secara sembarangan di usia muda. Dengan melihat tampilan atau tayangan seks di media, para remaja itu beranggapan bahwa seks adalah sesuatu yang bebas dilakukan oleh siapa saja, dimana saja.

Oleh karena itu, kami memilih tema Pergaulan Bebas Remaja untuk dikaji lebih lanjut sebagai informasi bagi kaum remaja yang sangat berkaitan erat dengan tema di atas.

B.     PERMASALAHAN
            Adapun masalah yang ditinjau dan dianalisis adalah antar lain:
·         Pengertian Pergaulan Bebas
·         Akibat dari Pergaulan Bebas
·         Penyakit HIV AIDS
·         Abostus/ Abosi

C.    TUJUAN
            Karya ilmiah ini saya buat berdasarkan sumber-sumber yang jelas dan akurat dengan tujuan supaya para remaja dapat mengatasi libidonya sehingga para remaja dapat terhindar dari akibat-akibat negatif dari pergaulannya seperti pergaulan bebas. Dan menghimbau kepada para remaja untuk tidak salah langkah dalam mengambil keputusan oleh karena perubahan seks yang terjadi pada dirinya.


BAB II
TINJAUAN TEORI


            Sekarang ini di kalangan remaja pergaulan bebas semakin meningkat terutama di kota-kota besar. Hal ini terjadi karena kurangnya bimbingan dan perhatian dari orang tua.
            Menurut Jane Brown, ilmuwan dari Universitas North Carolina yang memimpin proyek penelitian ini, semakin banyak remaja disuguhi dengan eksploitasi seks di media, maka mereka akan semakin berani mencoba seks di usia muda.
Sebelumnya para peneliti ini telah menemukan hubungan antara tayangan seks di televisi dengan perilaku seks para remaja. Dengan mengambil sampel sebanyak 1,017 remaja berusia 12 sampai 14 tahun dari Negara bagian North Carolina, AS yang disuguhi 264 tema seks dari film, televisi, pertunjukan, musik, dan majalah selama 2 tahun berturut-turut, mereka mendapatkan hasil yang sangat mengejutkan.

Secara umum, kelompok remaja yang paling banyak mendapat dorongan seksual dari media cenderung melakukan seks pada usia 14 hingga 16 tahun 2,2 kali lebih tinggi ketimbang remaja lain yang lebih sedikit melihat eksploitasi seks dari media.

Maka tidak mengherankan kalau tingkat kehamilan di luar nikah di Amerika Serikat sepuluh kali lipat lebih tinggi dibanding negara-negara industri maju lainnya, hingga penyakit menular seksual (PMS) kini menjadi ancaman kesehatan publik disana.

Pada saat yang sama, orang tua juga melakukan kesalahan dengan tidak memberikan pendidikan seks yang memadai di rumah, dan membiarkan anak-anak mereka mendapat pemahaman seks yang salah dari media. Akhirnya jangan heran kalau persepsi yang muncul tentang seks di kalangan remaja adalah sebagai sesuatu yang menyenangkan dan bebas dari resiko (kehamilan atau tertular penyakit kelamin).

Parahnya lagi, menurut hasil penelitian tersebut, para remaja yang terlanjur mendapat informasi seks yang salah dari media cenderung menganggap bahwa teman-teman sebaya mereka juga sudah terbiasa melakukan seks bebas. Mereka akhirnya mengadopsi begitu saja norma-norma sosial "tak nyata" yang sengaja dibuat oleh media.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal American Academy of Pediatrics, serta sebagian dalam Journal of Adolescent Health. Namun sayangnya, hasil penelitian tersebut belum melihat bagaimana dampak informasi seks di internet pada perilaku seks remaja.

Dengan mendapatkan temuan-temuan lain yang lebih konsisten, mungkin kita tak perlu menunggu lama untuk membuktikan bahwa media memiliki peranan penting dalam pembentukan norma seksual di kalangan remaja. (reuters/dni)



BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A.    PENYEBAB DAN DAMPAK PERGAULAN BEBAS

Tingginya kasus penyakit Human Immunodeficiany Virus/Acquired Immnune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), khususnya pada kelompok umur remaja, salah satu penyebabnya akibat pergaulan bebas.Hasil penelitian di 12 kota di Indonesia termasuk Denpasar menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah sudah pernah melakukan hubungan seksual.

Di kota Denpasar dari 633 pelajar Sekolah Menengah Tingkat Atas (SLTA) yang baru duduk di kelas II, 155 orang atau 23,4% mempunyai pengalaman hubungan seksual.

Mereka terdiri atas putra 27% dan putri 18%. Data statistik nasional mengenai penderita HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 75% terjangkit hilangnya kekebalan daya tubuh pada usia remaja.
Demikian pula masalah remaja terhadap penyalahgunaan narkoba semakin memprihatinkan.Berdasarkan data penderita HIV/AIDS di Bali hingga Pebruari 2005 tercatat 623 orang, sebagian besar menyerang usia produktif. Penderita tersebut terdiri atas usia 5-14 tahun satu orang, usia 15-19 tahun 21 orang, usia 20-29 tahun 352 orang, usia 30-39 tahun 185 orang, usia 40-49 tahun 52 orang dan 50 tahun ke atas satu orang.
semakin memprihatinkan penderita HIV/AIDS memberikan gambaran bahwa, cukup banyak permasalahan kesehatan reproduksi yang timbul diantara remaja. Oleh sebab itu mengembangan model pusat informasi dan konsultasi kesehatan reproduksi remaja melalui pendidik (konselor) sebaya menjadi sangat penting.
“Pusat informasi dan konsultasi kesehatan reproduksi remaja menjadi model pemberdayaan masyarakat yang bertujuan menumbuhkan kesadaran dan peranserta individu memberikan solusi kepada teman sebaya yang mengalami masalah kesehatan reproduksi”.
Pelatihan Managemen tersebut diikuti 24 peserta utusan dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali berlangsung selama empat hari.
Belum lama ini ada berita seputar tentang keinginan sekelompok masyarakat agar aborsi dilegalkan, dengan dalih menjunjung tinggi nilai hak azasi manusia. Ini terjadi karena tiap tahunnya peningkatan kasus aborsi di Indonesia kian meningkat, terbukti dengan pemberitaan di media massa atau TV setiap tayangan pasti ada terungkap kasus aborsi. Jika hal ini di legalkan sebgaimana yang terjadi di negara-negara Barat akan berakibat rusaknya tatanan agama, budaya dan adat bangsa. Berarti telah hilang nilai-nilai moral serta norma yang telah lama mendarah daging dalam masyarakat. Jika hal ini dilegal kan akan mendorong terhadap pergaulan bebas yang lebih jauh dalam masyarakat.
Orang tidak perlu menikah untuk melakukan hubungan seks. Sedangkan pelepasan tanggung jawab kehamilan bisa diatasi dengan aborsi. Legalisasi aborsi bukan sekedar masalah-masalah kesehatan reproduksi lokal Indonesia, tapi sudah termasuk salah satu pemaksaan gaya hidup kapitalis sekuler yang dipropagandakan PBB melalui ICDP (International Conference on Development and Population) tahun 1994 di Kairo Mesir.
Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami ; penderitaan kehilangan harga diri (82%), berteriak-teriak histeris (51%), mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%), ingin bunuh diri (28%), terjerat obat-obat terlarang (41%), dan tidak bisa menikmati hubungan seksual (59%).
Aborsi atau abortus berarti penguguran kandungan atau membuang janin dengan sengaja sebelum waktunya, (sebelum dapat lahir secara alamiah). Abortus terbagi dua;
Pertama, Abortus spontaneus yaitu abortus yang terjadi secara tidak sengaja. penyebabnya, kandungan lemah, kurangnya daya tahan tubuh akibat aktivitas yang berlebihan, pola makan yang salah dan keracunan.
Kedua, Abortus provocatus yaitu aborsi yang disengaja. Disengaja maksudnya adalah bahwa seorang wanita hamil sengaja menggugurkan kandungan/ janinnya baik dengan sendiri atau dengan bantuan orang lain karena tidak menginginkan kehadiran janin tersebut.
Risiko Aborsi
Aborsi memiliki risiko penderitaan yang berkepanjangan terhadap kesehatan maupun keselamatan hidup seorang wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa seseorang yang melakukan aborsi ia ” tidak merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang “.
Ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang kebingungan karena tidak menginginkan kehamilan yang sudah terjadi. Resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi berisiko kesehatan dan keselamatan secara fisik dan gangguan psikologis.
Dalam buku “Facts of Life” yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd; Risiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi seorang wanita pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi adalah ;

- Kematian mendadak karena pendarahan hebat.
- Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.
- Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan.
- Rahim yang sobek (Uterine Perforation).
- Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.
- Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita),
- Kanker indung telur (Ovarian Cancer).
- Kanker leher rahim (Cervical Cancer).
- Kanker hati (Liver Cancer).
- Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.
- Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi ( Ectopic Pregnancy).
- Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).
- Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita. Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai “Post-Abortion Syndrome” (Sindrom Paska-Aborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam ” Psychological Reactions Reported After Abortion ” di dalam penerbitan The Post-Abortion Review.
Oleh sebab itu yang sangat penting untuk diperhatikan dalam hal ini adanya perhatian khusus dari orang tua remaja tersebut untuk dapat memberikan pendidikan seks yang baik dan benar. Dan memberikan kepada remaja tersebut penekanan yang cukup berarti dengan cara meyampaikan; jika mau berhubungan seksual, mereka harus siap menanggung segala risikonya yakni hamil dan penyakit kelamin.
 
Namun disadari, masyarakat (orangtua) masih memandang tabu untuk memberikan pendidikan, pengarahan sex kepada anak. Padahal hal ini akan berakibat remaja mencari informasi dari luar yang belum tentu kebenaran akan hal sex tersebut.
B.     Nilai Pancasila
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh perusahaan riset Internasional Synovate atas nama DKT Indonesia melakukan penelitian terhadap perilaku seksual remaja berusia 14-24 tahun. Penelitian dilakukan terhadap 450 remaja dari Medan, Jakarta, Bandung dan Surabaya.
Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa 64% remaja mengakui secara sadar melakukan hubungan seks pranikah dan telah melanggar nilai-nilai dan norma agama. Tetapi, kesadaran itu ternyata tidak mempengaruhi perbuatan dan prilaku seksual mereka. Alasan para remaja melakukan hubungan seksual tersebut adalah karena semua itu terjadi begitu saja tanpa direncanakan.
Hasil penelitian juga memaparkan para remaja tersebut tidak memiliki pengetahuan khusus serta komprehensif mengenai seks. Informasi tentang seks (65%) mereka dapatkan melalui teman, Film Porno (35%), sekolah (19%), dan orangtua (5%). Dari persentase ini dapat dilihat bahwa informasi dari teman lebih dominan dibandingkan orangtua dan guru, padahal teman sendiri tidak begitu mengerti dengan permasalahan seks ini, karena dia juga mentransformasi dari teman yang lainnya.
Kurang perhatian orangtua, kurangnya penanaman nilai-nilai agama berdampak pada pergaulan bebas dan berakibat remaja dengan gampang melakukan hubungan suami istri di luar nikah sehingga terjadi kehamilan dan pada kondisi ketidaksiapan berumah tangga dan untuk bertanggung jawab terjadilah aborsi. Seorang wanita lebih cendrung berbuat nekat (pendek akal) jika menghadapi hal seperti ini.
Pada zaman modren sekarang ini, remaja sedang dihadapkan pada kondisi sistem-sistem nilai, dan kemudian sistem nilai tersebut terkikis oleh sistem nilai yang lain yang bertentangan dengan nilai moral dan agama. Seperti model pakaian (fasion), model pergaulan dan film-film yang begitu intensif remaja mengadopsi kedalam gaya pergaulan hidup mereka termasuk soal hubungan seks di luar nikah dianggap suatu kewajaran.
Bebera faktor yang menyebabkan terjadinya pergaulan bebas dikalangan remaja yaitu;
Pertama, Faktor agama dan iman.

Kedua, Faktor Lingkungan seperti orangtua, teman, tetangga dan media.
Ketiga, Pengetahuan yang minim ditambah rasa ingin tahu yang berlebihan.
Keempat, Perubahan Zaman.

C.    Nilai Agama

Firman Allah: ” Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.” ( QS 17:31 ). Banyak calon ibu yang masih muda beralasan bahwa karena penghasilannya masih belum stabil atau tabungannya belum memadai, kemudian ia merencanakan untuk menggugurkan kandungannya.
Padahal ayat tersebut telah jelas menerangkan bahwa rezeki adalah urusan Allah sedangkan manusia diperintahkan untuk berusaha. Membunuh satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang. Menyelamatkan satu nyawa sama artinya dengan menyelamatkan semua orang.
Islam memberikan ganjaran dosa yang sangat besar terhadap pelaku aborsi. Firman Allah: “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena sebab-sebab yang mewajibkan hukum qishash, atau bukan karena kerusuhan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara keselamatan nyawa seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara keselamatan nyawa manusia semuanya.” (QS 5:32 )
Oleh sebab itu aborsi adalah membunuh, membunuh berarti melakukan tindakan kriminal dan melawan terhadap perintah Allah. Al-Quran menyatakan: “Adapun hukuman terhadap orang-orang yang berbuat keonaran terhadap Allah dan RasulNya dan membuat bencana kerusuhan di muka bumi ialah: dihukum mati, atau disalib, atau dipotong tangan dan kakinya secara bersilang, atau diasingkan dari masyarakatnya. Hukuman yang demikian itu sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang pedih.” (QS 5:36)

D.    Nilai Yuridis/Hukum

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia Bab XIV tentang kejahatan terhadap kesusilaan pasal 229 ayat (1) dikatakan bahwa perbuatan aborsi yang disengaja atas perbuatan sendiri atau meminta bantuan pada orang lain dianggap sebagai tindakan pidana yang diancam dengan hukuman paling lama 4 tahun penjara atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.
Ayat (2) pasal 299 tersebut melanjutkan bahwa apabila yang bersalah dalam aborsi tersebut adalah pihak luar ( bukan ibu yang hamil ) dan perbuatan itu dilakukan untuk tujuan ekonomi, sebagai mata pencarian, maka hukumannya dapat ditambah sepertiga hukuman pada ayat (1) dia atas.
Apabila selama ini perbuatan itu dilakukan sebagai mata pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan mata pencarian tersebut. Kemudian pada pasal 346 dikatakan bahwa wanita yang dengan sengaja menggugurkan kandungannya atau meyuruh orang lain untuk melakukan hal itu diancam hukuman penjara paling lama empat tahun.
Pada pasal 347 ayat (1) disebutkan orang yang menggugurkan atau mematikan kehamilan seorang wanita tanpa persetujuan wanita itu diancam hukuman paling lama 12 tahun penjara, dan selanjutnya ayat (2) menyebutkan jika dalam menggugurkan kandungan tersebut berakibat pada hilangnya nyawa wanita yang mengandung itu, maka pihak pelaku dikenakan hukuman penjara paling lama 15 tahun.
Dalam pasal 348 ayat (1) disebutkan bahwa orang yang dengan sengaja menggugurkan kandungan seorang wanita atas persetujuan wanita itu diancam hukuman paling lama 15 tahun penjara, dan ayat (2) melanjutkan, jika dalam perbuatan itu menyebabkan wanita itu meninggal, maka pelaku diancam hukuman paling lama 17 tahun penjara. Dengan demikian, perbuatan aborsi di Indonesia termasuk tindakan kejahatan yang diancam dengan hukuman yang jelas dan tegas.
BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A.    Kesimpulan
Telah jelas bagi kita tidak ada dasar bagi Rancangan pembentukan Undang-undang legalisasi aborsi karena hal itu bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, Agama dan Hukum yang berlaku. Legalisasi aborsi akan mendorong pergaulan bebas lebih jauh dalam masyarakat.
Orang tidak perlu menikah untuk melakukan hubungan seks. Sedangkan pelepasan tanggung jawab kehamilan bisa diatasi dengan aborsi. Sedangkan dilarang saja masih banyak terjadi aborsi, bagaimana jika hal ini dilegalkan? Legalisasi akan berakibat orang tidak lagi takut untuk melakukan hubungan intim pranikah, prostitusi karena jika hamil hanya tinggal datang ke dokter atau bidan beranak untuk menggugurkan, dengan kondisi ini dokter ataupun bidan dengan leluasa memberikan patokan harga yang tinggi dalam sekali melakukan pengguguran.
Jika perharinya yang melakukan aborsi 7 s/d 8 orang dan harga sekali aborsi sebesar Rp. 4.000.000,-, berarti dalam satu harinya dokter ataupun bidan bisa meraup keuntungan sebesar Rp. 32.000.000,-. Jika di legalkan hal tersebut lebih berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan remaja, legalisasi tidak memberikan manfaat bagi masyarakat dan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan Agama, jika bertentangan tidak perlu diterima/dibentuk peraturan tersebut.
Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana remaja dapat menempatkan dirinya sebagai remaja yang baik dan benar sesuai dengan tuntutan agama dan norma yang berlaku di dalam masyarakat serta dituntut peran serta orangtua dalam memperhatikan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari anaknya, memberikan pendidikan agama, memberikan pendidikan seks yang benar. Oleh sebab itu permasalahan ini merupakan tugas seluruh elemen bangsa tanpa terkecuali, agar menjadi sebuah proritas dalam penanganannya agar tidak terjadi kematian disebabkan aborsi tersebut. Sehingga Tingginya kasus penyakit Human Immunodeficiany Virus/Acquired Immnune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), khususnya pada kelompok umur remaja, salah satu penyebabnya akibat pergaulan bebas.
Selain hilangnya kekebalan daya tubuh, pergaulan bebas juga dapat menyebabkan terjadinya kehamilan di luar nikah, kata Kepala BKKBN Propinsi Bali, I Gede Putu Abadi, MPA di Denpasar, Senin (24/10).
Dalam sambutan tertulis dibacakan Kepala Balai Latihan dan Pengembangan, Ida Bagus Wirama, SH ketika membuka pelatihan managemen pusat informasi dan konsultasi kesehatan reproduksi remaja bagi relawan dan pengelola, ia menyatakan, kondisi tersebut cukup memprihatinkan.
Hasil penelitian di 12 kota di Indonesia termasuk Denpasar menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah sudah pernah melakukan hubungan seksual.
Di kota Denpasar dari 633 pelajar Sekolah Menengah Tingkat Atas (SLTA) yang baru duduk di kelas II, 155 orang atau 23,4% mempunyai pengalaman hubungan seksual.
Mereka terdiri atas putra 27% dan putri 18%. Data statistik nasional mengenai penderita HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 75% terjangkit hilangnya kekebalan daya tubuh pada usia remaja.
Demikian pula masalah remaja terhadap penyalahgunaan narkoba semakin memprihatinkan, ujar Putu Abadi.
Berdasarkan data penderita HIV/AIDS di Bali hingga Pebruari 2005 tercatat 623 orang, sebagian besar menyerang usia produktif. Penderita tersebut terdiri atas usia 5-14 tahun satu orang, usia 15-19 tahun 21 orang, usia 20-29 tahun 352 orang, usia 30-39 tahun 185 orang, usia 40-49 tahun 52 orang dan 50 tahun ke atas satu orang.
Putu Abadi menambahkan, semakin memprihatinkan penderita HIV/AIDS memberikan gambaran bahwa, cukup banyak permasalahan kesehatan reproduksi yang timbul diantara remaja. Oleh sebab itu mengembangan model pusat informasi dan konsultasi kesehatan reproduksi remaja melalui pendidik (konselor) sebaya menjadi sangat penting.
"Pusat informasi dan konsultasi kesehatan reproduksi remaja menjadi model pemberdayaan masyarakat yang bertujuan menumbuhkan kesadaran dan peranserta individu memberikan solusi kepada teman sebaya yang mengalami masalah kesehatan reproduksi,"




DAFTAR PUSTAKA

  1. http://ninahamzah.wordpress.com/akibat-terjadinya-pergaulan-bebas/        
  2. http://www.kapanlagi.com/a/0000002988.html
  3. http://www.kapanlagi.com/h/0000088252.html                  
  4. http://tabloid_info.sumenep.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=744&Itemid=27         
  5. http://hati.unit.itb.ac.id/forum/viewtopic.php?f=28&p=182

Rabu, 06 Februari 2013

Tujuh Strategi Pembelajaran



Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Pendidikan bagi masyarakat Indonesia sangat penting sekali. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut penduduk dunia untuk mengenyam ilmu setinggi-tingginya agar tidak ketinggalan zaman.
Begitu pun dengan masyarakat di Indonesia. Program wjib belajar 9 tahun yang dikeluarkan oleh pemerintah diharapkan dapat mengurangi anak yang putus sekolah.
Pemerintah berupaya untuk mengurangi jumlah anak yang putus sekolah melalui berbagai hal. Mulai dari penyediaan fasilitas sekolah sampai sumbangan buku-buku pelajaran. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi biaya pendidikan yang sekarang ini sangat mahal.
Apabila seorang anak sudah mau sekolah, maka sistem pembelajarannya juga perlu dibenahi agar menghasilkan anak didik yang pintar dan cerdas.
Dengan banyaknya generasi muda yang pintar dan cerdas, maka dapat membantu mengembangkan negara ini. Hal tersebut tentu saja perlu dukungan dari semua pihak. Mulai dari orang tua, pengajar, sampai masyarakat sekitarnya.
Keberhasilan seorang anak dalam belajarnya, selain dukungan semua pihak, juga dari sistem belajarnya juga. Untuk itu, seorang pengajar harus mengetahui karakter anak didiknya.
Anak yang satu dengan anak yang lainnya berbeda karakternya. Ada yang mudah menerima materi, ada juga anak yang susah menerima materi. Nah, itu menjadi sebuah masalah bagi pengajar, bagaimana menerapkan strategi pembelajaran.
Dalam strategi ini terkandung makna perencanaan. Maksudnya, pada dasarnya strategi masih bersifat konseptual mengenai keputusan yang akan diambil dalam pelaksanaan pembelajaran.
Secara umum, strategi dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dalam dunia pendidikan, strategi dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi mengenai rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Dari pengertian di atas, bisa disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu rencana atau tindakan (rangkaian kegiatan) yang di dalamnya termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran.
Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan sehingga penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas, dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Akan tetapi sebelumnya, perlu dirumuskan suatu tujuan yang jelas yang bisa diukur keberhasilannya.

Strategi Pembelajaran Ekspositori

Strategi pembelajaran ekspositori adalah pembelajaran yang memfokuskan pada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Strategi ini merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru. Hal tersebut disebabkan dalam strategi ini guru memegang peranan yang sangat penting atau dominan.

1. Keunggulan Strategi Pembelajaran Ekspositori

  • Dengan strategi pembelajaran ekspositori, guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran.
  • Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sedangkan waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.
  • Melalui strategi pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materipelajaran juga sekaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi).
  • Keuntungan lain adalah strategi ini bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar. 

2. Kelemahan Strategi Pembelajaran Ekspositori

  • Strategi ini hanya mungkin dapat dilakukan terhadapsiswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.
  • Strategi ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, pengetahuan, minat, bakat, serta perbedaan gaya belajar.
  • Karena strategi ini diberikan melalui ceramah, kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis akan sulit berkembang.
  • Keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori sangat tergantung pada apa yang dimiliki guru seperti persiapan, pengetahuan, antusiasme, motivasi, dan berbagai kemampuan lainnya.

Strategi Pembelajaran Inquiry

Strategi pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang memfokuskan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Proses berpikir itu biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran inquiry termasuk bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Hal tersebut karena dalam strategi ini siswa memiliki peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran.

1. Keunggulan Strategi Pembelajaran Inquiry:

  • Strategi pembelajaran inquiry menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang.
  • Dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
  • Strategi pembelajaran inquiry dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern.
  • Strategi ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Kelemahan Strategi Pembelajaran Inquiry:

  • Strategi pembelajaran Inquiry sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
  • Strategi ini sulit dalam merencanakanpembelajaran karena terbentuk dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
  • Untuk mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga guru akan mengalami kesulitan menyesuaikan dengan waktu yang telah ditentukan.
  • Selama keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, strategi pembelajaran inquiry akan sulit diimplementasikan.

Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah

Strategi pembelajaran berbasis masalah bisa diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang memfokuskan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Dalam strategi pembelajaran berbasis masalah, terdapat 3 ciri utama, yaitu sebagai berikut.
  • Strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran. Maksudnya, dalam strategi ini tidak mengharapkan siswa hanya sekadar mendengarkan, mencatat, dan menghafal materi pelajaran. Akan tetapi, melalui strategi pembelajaran berbasis masalah, siswa diajakan untuk aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, serta menyimpulkannya.
  • Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Strategi pembelajaran berbasis masalah memosisikan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran.
  • Pemecahan masalah dilakukan dengan pendekatan berpikir ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah merupakan proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu. Sementara empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.

1. Keunggulan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah.

  • Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
  • Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menentukan pengetahuan baru bagi siswa.
  • Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitaspembelajaran siswa.

2. Kelemahan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah.

  • Ketika siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
  • Keberhasilan strategi pembelajaran melalui pemecahan masalah membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
  • Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari. 

Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir

Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir merupakan strategi yang menekankan kepada kemampuan berpikir siswa. Dalam strategi pembelajaran ini, materi pelajaran tidak disajikan begitu saja kepada siswa, tetapi siswa dibimbing untuk proses menemukan sendiri konsep yang harus dikuasai melalui proses dialogis yang terus menerus dengan memanfaatkan pengalaman siswa.
Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir merupakan model pembelajaran yang bertumpu pada pengembangan kemampuan berpikir siswa. Pengembangan berpikir siswa dilakukan dengan menelaah fakta-fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang diajarkan.

Strategi Pembelajaran Koperatif

Model pembelajaran koperatif merupakan rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Ada empat unsur penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yaitu adanya peserta dalam kelompok, adanya aturan kelompok, adanya upaya belajar setiap kelompok, dan adanya tujuan yang harus dicapai dalam kelompok belajar.

Strategi Pembelajaran Kontekstual (CTL)

CTL atau Contextual Teaching and Learning adalah suatustrategi  yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. 

Strategi Pembelajaran Afektif

Strategi pembelajaran afektif memang berbeda dengan strategi pembelajaran kognitif dan keterampilan. Afektif berhubungan dengan nilai (value), yang sulit diukur. Oleh sebab itu, menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam diri siswa. 
Itulah 7 strategi pembelajaran yang bisa diterapkan oleh guru atau tenaga pendidik kepada para siswanya. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan menambah wawasan Anda.
***

Strategi Pembelajaran - Strategi Mengajar

Secara umum, strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu pola yang berfungsi sebagai haluan untuk mengambil tindakan dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Jika dikaitkan dengan belajar mengajar, strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Sanjaya (2007: 126), dalam dunia pendidikan, strategi pembelajaran diartikan sebagai perencanaan yang berisi rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sementara itu, Menurut Kemp, strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan oleh guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Dari beberapa definisi tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu rencana atau tindakan (rangkaian kegiatan) yang termasuk juga penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Hal ini berarti bahwa dalam penyusunan sebuah strategi hanya sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan.
Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Oleh karena itu, penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas, dan sumber belajar semuanya difokuskan dalam upaya pencapaian tujuan. Akan tetapi, sebelumnya, perlu dirumuskan suatu tujuan jelas yang dapat diukur keberhasilannya.
Dalam strategi pembelajaran, ada empat strategi dasar dalam proses belajar mengajar. Berikut ini strategi dasar yang dalam strategi pembelajaran.
  1. Mengidentifikasikan serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik seperti yang diharapkan.
  2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
  3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan acuan oleh guru dalam menjalankan kegiatan mengajarnya.
  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan, kriteria, serta standar keberhasilan dapat dijadikan pedoman bagi guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.
Dari penjelasan strategi dasar tersebut, dapat digambarkan bahwa ada empat pokok masalah penting yang dapat dan harus dijadikan sebagai pedoman atau acuan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar agar dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan.

Model Strategi Pembelajaran

Menurut Sanjaya, ada beberapa model strategi pembelajaran yang harus dilakukan oelh seorang guru. Berikut ini model strategi pembelajaran.

1. Strategi Pembelajaran Ekspositori

Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan pada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan tujuan agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru. Hal itu dikarenakan dalam strategi ini guru memegang peranan yang sangat penting atau dominan.

2. Strategi Pembelajaran Inquiry

Strategi pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Biasanya, proses berpikir itu dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering disebut strategi heuristik, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti “saya menemukan”.
Strategi pembelajaran inquiry merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Hal ini disebabkan dalam strategi ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran. 

3. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir

 Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir merupakan strategi pembelajaran yang memfokuskan pada kemampuan berpikir siswa. Dalam strategi pembelajaran ini, materi pelajaran tidak disajikan begitu saja kepada siswa, tapi siswa dibimbing untuk proses menemukan sendiri konsep yang harus dikuasai melalui proses dialogis yang terus menerus dengan memanfaatkan pengalaman siswa.

4. Strategi Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Dalam strategi ini, ada empat unsur penting, yaitu ada peserta dalam kelompok, ada aturan kelompok, ada upaya belajar setiap kelompok, dan ada tujuan yang harus dicapai dalam kelompok belajar.

Komponen Strategi Pembelajaran

Ketika akan mengaplikasikan strategi pembelajaran, ada komponen-komponen yang wajib diperhatikan agar dalam kegiatan belajar mengajar dicapai sebuah tujuan yang sudah ditentukan. Dick dan Carey mengatakan bahwa ada lima kompoenen strategi pembelajaran, yaitu:
  • kegiatan pembelajaran pendahuluan;
  • penyampaian informasi;
  • partisipasi siswa;
  • tes; dan
  • kegiatan lanjutan.
Semenatara itu, ahli lainnya mengatakan bahwa ada sembilan komponen dalam strategi pembelajaran.
  • Memberikan motivasi atau menarik perhatian.
  • Menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa.
  • Mengingatkan kompetensi prasyarat.
  • Memberi stimulus (masalah, topik, dan konsep).
  • Memberi petunjuk belajar (cara mempelajari).
  • Menimbulkan penampilkan siswa.
  • Memberi umpan balik.
  • Menilai penampilan.
  • Menyimpulkan.
Secara umum, komponen strategi pembelajaran berdasarkan rumusan para ahli dikelompokkan menjadi lima.

1. Komponen Strategi Pembelajaran - Urutan Kegiatan Pembelajaran

Membuat urutan kegiatan pembelajaran mampu mempermudah guru ketika melaksanakan kegaiatan belajar mengajar. Dengan komponen strategi pembelarajan ini, setiap pengajar akan mengetahui bagaimana cara memulai, menyajikan, dan menutup pelajaran.
  • Subkomponen pendahuluan. Komponen strategi pembelajaran ini adalah kegiatan pertama dalam pembelajaran yang bertujuan memotivasi siswa, membuat siswa fokus kepada pelajaran, mengetahui kemampuan siswa, dan apa yang sudah dikuasai siswa.
  • Subkomponen penyajian, pokok dari kegiatan belajar mengajar. Misalnya menjelaskan materi pelajaran, memberikan contoh materi pelajaran, dan memberi latihan kepada siswa. 
  • Subkomponen penutup, yaitu kegiatan terakhir dari urutan kegiatan pembelajaran. Komponen strategi pembelajaran ini berisi simpulan dan penilaian yang berhubungan dengan materi pelajaran.

2. Komponen Strategi Pembelajaran - Metode Pembelajaran

Metode pembelajran adalah komponen strategi pembelajaran yang diapakai oleh para guru ketika menyampaikan pesan pembelajaran kepada siswa. Berikut jenis metode pembelajaran.
  • Metode ceramah
  • Metode demonstrasi
  • Metode simulasi
  • Metode diskusi
  • Metode studi mandiri
  • Metode studi kasus
  • Metode pembelajaran terprogram
  • Metode discovery
  • Metode do-look-learn
  • Metode bermain peran

3. Komponen Strategi Pembelajaran - Media yang Digunakan

Media dalam pembelajaran dapat berupa manusia (guru), media cetak, alat elektronik, dan lain-lain. Hal yang wajib diperhatikan saat memilih media yaitu:
  • ketepatan dengan tujuan pembelajaran;
  • dukungan terhadap isi pelajaran;
  • kemudahan mendapatkan media;
  • keterampilan guru ketika menggunakannya;
  • ketersediaan waktu menggunakannya; dan
  • sesuai dengan kemampuan berpikir siswa.

4. Komponen Strategi Pembelajaran - Waktu Tatap Muka

Para guru atau pengajar harus mengetahui alokasi waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan pembelajaran serta waktu yang dipakai pengajar atau guru untuk menyampaikan informasi pembelajaran. Dengan demikian, proses belajar mengajar akan sesuai dengan target yang diperkirakan.

5. Komponen Strategi Pembelajaran - Pengelolaan Kelas

Kelas merupakan ruangan belajar yang termasuk dalam lingkungan fisik dan lingkungan sosio-emosional. Ruangan belajar (lingkungan fisik) tersebut mencakup ruang kelas, keindahan kelas, kebersihan kelas, penataan tempat duduk serta meja, panataan sarana lainnya, ventilasi udara, pengaturan cahaya. Sementara itu, lingkungan sosio-emosional mencakup sikap guru, tipe kepemimpinan guru, vokal guru, dan lain-lain. Intinya, pengelolaan kelas akan membuat proses pembelajaran berjalan lancar.
Itulah komponen-komponen dalam strategi pembelajaran.

anneahira[dot]com